Sampul The Hospice Gardener

In October the ground at the hospice is cold on the surface and warm underneath. Timea, kneeling in the long bed beneath the east windows, has learned to tell by the smell of it whether the bulbs will take. This morning she has four hundred of them in a crate: daffodils, tulips, and the small blue squills that nobody notices until they have already won. She sets them in rows, pointed end up, a hand's width apart, and does not think about March.

Pada bulan Oktober, tanah di hospis itu dingin di permukaan tetapi hangat di bawahnya. Timea, berlutut di petak panjang di bawah jendela-jendela timur, sudah belajar membedakan dari baunya apakah umbi-umbi itu akan tumbuh. Pagi ini ia memiliki empat ratus umbi dalam sebuah peti: narsis, tulip, dan skuila biru kecil yang tak diperhatikan siapa pun sampai mereka sudah menang. Ia menaruhnya berbaris, ujung runcing menghadap ke atas, berjarak sejengkal tangan, dan tidak memikirkan bulan Maret.

That is not quite true. She thinks about March a great deal. She has worked here for six years, long enough to know the arithmetic. Most of the people who can see this bed from their pillows today will not be here when it flowers. She plants it regardless, every autumn, with the same slow care, like someone mending a coat for a journey she is not taking. What she has never managed to explain, even to herself, is why the care feels necessary rather than merely kind.

Itu tidak sepenuhnya benar. Ia sangat sering memikirkan bulan Maret. Ia sudah bekerja di sini enam tahun, cukup lama untuk tahu hitungannya. Sebagian besar orang yang hari ini bisa melihat petak ini dari bantal mereka tidak akan ada saat ia berbunga. Ia tetap menanamnya, setiap musim gugur, dengan kecermatan lambat yang sama, seperti seseorang yang menambal mantel untuk perjalanan yang tak akan ia tempuh. Yang tak pernah berhasil ia jelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri, adalah mengapa kecermatan itu terasa perlu dan bukan sekadar baik hati.

The layout of the beds is her one eccentricity. When she was hired, she asked the matron for the keys to the empty rooms. She spent an afternoon lying on each bed in turn, head on every pillow, working out what a person who could not get up would see through each window. The answer was almost nothing: a section of hedge, a drainpipe, the sky. So she redrew the garden from the bottom up. Had she trusted the plans instead, the long bed would have gone beside the car park, where visitors would have admired it. It sits under the east windows because of that afternoon. So is the birch, which she moved herself one terrible weekend, with a borrowed trolley and a great deal of swearing.

Tata letak petak-petak itu adalah satu-satunya keanehannya. Ketika ia diterima bekerja, ia meminta kunci ruang-ruang kosong kepada kepala perawat. Ia menghabiskan satu sore berbaring di tiap tempat tidur secara bergantian, kepala di setiap bantal, mencari tahu apa yang akan dilihat seseorang yang tak bisa bangun dari balik tiap jendela. Jawabannya nyaris tak ada apa-apa: sepotong pagar tanaman, sebuah pipa air hujan, langit. Maka ia menggambar ulang taman itu dari dasar. Seandainya ia memercayai denah yang ada, petak panjang itu akan ditempatkan di samping tempat parkir, tempat para pengunjung akan mengaguminya. Petak itu berada di bawah jendela-jendela timur karena sore itu. Begitu pula pohon birch, yang ia pindahkan sendiri pada suatu akhir pekan yang mengerikan, dengan troli pinjaman dan banyak sekali sumpah serapah.

"You've been at that a while," says a voice behind her. It belongs to the woman from the corner room, a retired geography teacher who arrived in August and has the precise, dry diction of someone used to being obeyed by children. She sits in the open French window in her wheelchair, a knitted blanket over her knees, watching Timea's hands.

"Kamu sudah lama mengerjakan itu," kata sebuah suara di belakangnya. Suara itu milik perempuan dari kamar sudut, seorang guru geografi pensiunan yang tiba pada bulan Agustus dan berbicara dengan dikte yang tepat dan kering seperti orang yang terbiasa dipatuhi anak-anak. Ia duduk di pintu Prancis yang terbuka di atas kursi rodanya, selimut rajut menutupi lututnya, memperhatikan tangan Timea.

For some time she says nothing more. Then: "May I ask you something? You can tell me to mind my own business." Timea sits back on her heels. "Why do you bother? You must know most of us won't see them." The words are not unkind. If anything, they are curious in the way of someone who has been asking the same question of herself for weeks and has finally found somebody else to put it to.

Beberapa lama ia tak berkata apa-apa lagi. Lalu: "Boleh saya bertanya sesuatu? Kamu boleh menyuruh saya mengurus urusan saya sendiri." Timea duduk bertumpu pada tumitnya. "Kenapa kamu repot-repot? Kamu pasti tahu sebagian besar dari kami tidak akan melihatnya." Kata-kata itu tidak kejam. Kalau ada, itu penuh rasa ingin tahu seperti orang yang berminggu-minggu menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri dan akhirnya menemukan orang lain untuk diberi pertanyaan itu.

Rarely has she been asked so plainly. Timea considers lying. She has a few good answers ready, the kind that appear in leaflets, about legacy and the cycle of things. She can feel how they would sound in this air, which is to say like decorations. "Because it's October," she says instead. "It's what the ground is for in October." She turns a bulb over in her glove. "And because I don't know who will be at the window in March. Nobody does. I'd rather there was something to look at."

Jarang ia ditanya sebegitu terus terang. Timea mempertimbangkan untuk berbohong. Ia punya beberapa jawaban bagus yang siap, jenis yang muncul di brosur, tentang warisan dan siklus segala sesuatu. Ia bisa merasakan bagaimana jawaban-jawaban itu akan terdengar di udara ini, yaitu seperti hiasan. "Karena sekarang bulan Oktober," katanya sebagai gantinya. "Itulah gunanya tanah di bulan Oktober." Ia membalik sebuah umbi di sarung tangannya. "Dan karena saya tidak tahu siapa yang akan berada di jendela pada bulan Maret. Tak seorang pun tahu. Saya lebih suka ada sesuatu untuk dipandang."

The woman receives this without comment. Her mouth moves slightly, which may be a smile or the beginning of a cough.

Perempuan itu menerima ini tanpa komentar. Mulutnya bergerak sedikit, yang mungkin senyum atau mungkin awal sebuah batuk.

"Which are those?" she asks, nodding at the crate. Timea tells her: the early daffodils, the mid-season tulips, and a late variety that flowers in the last week of April, if the spring is mean. "Mean springs suit the late ones best," she adds, and wishes at once that she had not.

"Yang mana itu?" tanyanya, mengangguk ke arah peti. Timea memberi tahu: narsis awal, tulip pertengahan musim, dan satu varietas akhir yang berbunga pada minggu terakhir April, kalau musim semi sedang pelit. "Musim semi yang pelit paling cocok untuk yang akhir," tambahnya, dan langsung menyesal telah mengatakannya.

"Late, then," says the woman. "Put the late ones under my window." She tucks the blanket tighter. "I've never been on time for anything. It seems only fair to back the one that isn't either."

"Yang akhir, kalau begitu," kata perempuan itu. "Tanam yang akhir di bawah jendela saya." Ia merapatkan selimutnya. "Saya tak pernah tepat waktu untuk apa pun. Rasanya adil kalau saya mendukung yang juga tidak."

Timea does not say that it is a bet she might lose. She takes up the trowel and starts to dig beneath the corner window, a row of small holes, a hand's width apart.

Timea tidak berkata bahwa itu taruhan yang mungkin kalah. Ia mengambil sekopnya dan mulai menggali di bawah jendela sudut, sebaris lubang kecil, berjarak sejengkal tangan.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. Why did Timea once lie on every bed in the empty rooms?

    Lihat jawaban

    Jawaban: To find out what each window showed to a person lying down

    She wanted to know what someone who could not get up would see through each window, and she redesigned the garden accordingly.

  2. What does the woman from the corner room ask Timea?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Why she bothers planting bulbs that most residents will not see

    She asks, "Why do you bother? You must know most of us won't see them."

  3. Which bulbs does the woman ask Timea to plant under her window?

    Lihat jawaban

    Jawaban: The late-flowering ones

    She says, "Put the late ones under my window," because she has never been on time for anything.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play