Sampul The Four-Day Week

The announcement comes on a Monday: the company will trial a four-day week for three months. Dragan claps politely with everyone else, then goes back to his desk and wonders what he will do with a free Friday.

Pengumumannya datang pada hari Senin: perusahaan akan mencoba pekan kerja empat hari selama tiga bulan. Dragan bertepuk tangan dengan sopan bersama yang lain, lalu kembali ke mejanya dan bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan pada hari Jumat yang kosong.

By the first Friday, he has been checking his email since eight o'clock. There is nothing urgent. Nothing is ever urgent on Fridays, which he now realizes is the whole point. He answers a message that could easily have waited until Monday and feels faintly ridiculous.

Pada Jumat pertama, ia sudah memeriksa surelnya sejak pukul delapan. Tidak ada yang mendesak. Tidak pernah ada yang mendesak pada hari Jumat, dan kini ia sadar bahwa itulah intinya. Ia membalas sebuah pesan yang sebenarnya bisa menunggu sampai Senin dan merasa agak konyol.

"You're supposed to rest," his sister tells him on the phone. "Do something with your hands, not your inbox."

"Kamu seharusnya beristirahat," kata kakak perempuannya lewat telepon. "Lakukan sesuatu dengan tanganmu, bukan dengan kotak masukmu."

"Like what?" he asks.

"Misalnya apa?" tanyanya.

"Like anything. Didn't you use to draw on everything when we were kids? Mum had to hide the wallpaper from you."

"Apa saja. Dulu waktu kecil kamu suka menggambar di mana-mana, kan? Ibu sampai harus menyembunyikan wallpaper dari kamu."

He had forgotten that. After lunch, he climbs into the attic and finds a box his grandfather left him. Inside are a flat tin of pencils, worn down to different lengths, and a sketchbook with half its pages still empty. The full half is street scenes: a tram stop, a market awning, a man asleep on a bench with his hat over his face.

Ia sudah melupakannya. Sehabis makan siang, ia naik ke loteng dan menemukan sebuah kotak peninggalan kakeknya. Di dalamnya ada kaleng pipih berisi pensil-pensil yang sudah habis terpakai dengan panjang berbeda-beda, dan sebuah buku sketsa yang separuh halamannya masih kosong. Separuh yang terisi berisi pemandangan jalanan: halte trem, kanopi pasar, seorang pria tertidur di bangku dengan topi menutupi wajahnya.

The second Friday, he sits at the kitchen window with the tin open and tries to draw the bakery across the road. The result looks like a bakery that has been in an accident. The roof slopes the wrong way, and the door would only fit a child. He borrows a library book on perspective and learns that he has been drawing what he expects to see, not what is actually there.

Pada Jumat kedua, ia duduk di jendela dapur dengan kaleng itu terbuka dan mencoba menggambar toko roti di seberang jalan. Hasilnya tampak seperti toko roti yang baru kena kecelakaan. Atapnya miring ke arah yang salah, dan pintunya hanya muat untuk anak kecil. Ia meminjam buku tentang perspektif dari perpustakaan dan mengerti bahwa selama ini ia menggambar apa yang ia kira akan dilihatnya, bukan apa yang sebenarnya ada di sana.

At work, his colleagues swap stories. One of them has been sleeping until ten. Another has repainted a bedroom. Dragan says he is "learning something," and when they ask what, he finds he doesn't want to explain. It feels too private, like admitting that he enjoys it.

Di kantor, rekan-rekannya saling bertukar cerita. Seorang dari mereka tidur sampai pukul sepuluh. Seorang lagi mengecat ulang kamar tidurnya. Dragan berkata bahwa ia sedang "belajar sesuatu", dan ketika mereka bertanya apa, ia mendapati dirinya tidak ingin menjelaskan. Rasanya terlalu pribadi, seperti mengaku bahwa ia menikmatinya.

By the third Friday, he has stopped looking at his phone. He pushes it into a kitchen drawer at eight o'clock and forgets it. He draws the bakery four more times. The roof straightens. He shades the shadows under the awning with the side of the pencil. Judging by the smudges on every page, his grandfather must have done the same.

Pada Jumat ketiga, ia sudah berhenti melihat ponselnya. Ia memasukkannya ke laci dapur pukul delapan dan melupakannya. Ia menggambar toko roti itu empat kali lagi. Atapnya menjadi lurus. Ia mengarsir bayangan di bawah kanopi dengan sisi pensil. Dilihat dari noda-noda goresan di setiap halaman, kakeknya pasti melakukan hal yang sama.

On the last Thursday of the month, his manager stops by his desk. She says the trial is going well. Productivity hasn't dropped, and several people have reportedly never felt so rested. "Anything you'd change?" she asks.

Pada hari Kamis terakhir bulan itu, manajernya mampir ke mejanya. Ia berkata bahwa percobaan ini berjalan baik. Produktivitas tidak turun, dan beberapa orang konon belum pernah merasa sesegar ini. "Ada yang ingin Anda ubah?" tanyanya.

"If it were up to me," Dragan says, "I'd make it permanent."

"Kalau terserah saya," kata Dragan, "saya akan menjadikannya permanen."

The next morning, he sits at the kitchen window with the phone shut away in its drawer. The baker comes out to lower the awning, as she does every Friday at nine. She stands for a moment with her hands on her hips. Dragan draws her quickly, before she can move.

Keesokan paginya, ia duduk di jendela dapur dengan ponsel tersimpan di lacinya. Si pemilik toko roti keluar untuk menurunkan kanopi, seperti yang ia lakukan setiap Jumat pukul sembilan. Perempuan itu berdiri sejenak dengan tangan di pinggang. Dragan menggambarnya dengan cepat, sebelum ia bergerak.

When he has finished, he opens his grandfather's sketchbook at the first empty page. He copies her in carefully, next to the man asleep on the bench.

Setelah selesai, ia membuka buku sketsa kakeknya pada halaman kosong yang pertama. Ia menyalin gambar perempuan itu dengan hati-hati, di samping pria yang tertidur di bangku itu.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. What does Dragan do on his first free Friday?

    Lihat jawaban

    Jawaban: He keeps checking his email

    He has been checking his email since eight o'clock and answers a message that could have waited.

  2. What does Dragan find in the attic?

    Lihat jawaban

    Jawaban: A tin of pencils and his grandfather's sketchbook

    The box his grandfather left him holds a tin of worn pencils and a half-empty sketchbook of street scenes.

  3. How does his manager describe the trial?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Productivity has not dropped and people feel rested

    She says it is going well, and several people have never felt so rested.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play