The First Day of Pottery Class
Cerita bahasa Inggris gratis level A2 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
Clio feels nervous on her first day of pottery class, but a kind teacher and a friendly classmate help her relax.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Clio is fifteen years old. Today is her first pottery class at the art center.
Clio berusia lima belas tahun. Hari ini adalah kelas tembikar pertamanya di pusat seni.
She feels nervous. She walks through the door and doesn't know anyone in the room.
Ia merasa gugup. Ia melangkah masuk dan tidak mengenal siapa pun di ruangan itu.
Paz, the teacher, waves and points to an empty seat. "Welcome! Sit anywhere you like," she says.
Paz, sang guru, melambai dan menunjuk kursi kosong. "Selamat datang! Silakan duduk di mana saja," katanya.
Clio sits down at a table with three other students. They all look busy already.
Clio duduk di meja bersama tiga murid lain. Mereka semua tampak sudah sibuk.
"Is this your first time with clay?" a boy next to her asks. "Yes, it is," Clio says.
"Ini pertama kalinya kamu memegang tanah liat?" tanya seorang anak laki-laki di sebelahnya. "Iya," kata Clio.
"Don't worry, everyone starts somewhere," the boy says. "My name is Anton, by the way."
"Jangan khawatir, semua orang mulai dari awal," kata anak laki-laki itu. "Omong-omong, namaku Anton."
Paz shows the class how to shape a small bowl. "Start with a ball of clay," she says. "Press your thumbs into the middle."
Paz menunjukkan kepada kelas cara membentuk mangkuk kecil. "Mulailah dengan sebongkah tanah liat," katanya. "Tekan bagian tengahnya dengan kedua ibu jari."
Clio tries it, but her bowl comes out lopsided. She looks at Anton's bowl, round and even.
Clio mencobanya, tetapi mangkuknya jadi miring sebelah. Ia melihat mangkuk Anton yang bulat dan rata.
"Mine looks bad," Clio says quietly. Paz walks over and looks at Clio's work.
"Punyaku jelek," kata Clio pelan. Paz menghampiri dan melihat hasil karya Clio.
"Actually, this is a great first try," Paz says. "Everyone's first bowl looks a little strange. That's normal."
"Sebenarnya ini percobaan pertama yang bagus," kata Paz. "Mangkuk pertama semua orang kelihatan agak aneh. Itu wajar."
Clio feels calm again. She tries again, and her second bowl looks round and smooth.
Clio kembali merasa tenang. Ia mencoba lagi, dan mangkuk keduanya tampak bulat dan halus.
By the end of class, Clio has three small bowls. Her bowls aren't perfect, but she feels proud.
Menjelang akhir kelas, Clio sudah punya tiga mangkuk kecil. Mangkuknya belum sempurna, tetapi ia merasa bangga.






