Sampul Two Families, One Dog

Bertil has volunteered at the animal shelter for three years, and he has never seen two families claim the same dog. He sees it now. The dog, a medium-sized brown mutt with one white ear, sits in the middle of the front office, wagging his tail at everybody.

Bertil sudah tiga tahun menjadi sukarelawan di penampungan hewan, dan ia belum pernah melihat dua keluarga mengklaim anjing yang sama. Sekarang ia melihatnya. Anjing itu, seekor anjing campuran cokelat berukuran sedang dengan satu telinga putih, duduk di tengah kantor depan sambil mengibaskan ekor kepada semua orang.

"His name is Pilot," says the first family, a father and two teenagers, holding out a phone. "Here he is at the beach. Here he is on the sofa. He has been missing since Thursday."

"Namanya Pilot," kata keluarga pertama, seorang ayah dan dua remaja, sambil menyodorkan ponsel. "Ini dia di pantai. Ini dia di sofa. Dia hilang sejak hari Kamis."

"His name is Toast," says the second family, a mother and a small girl. "We have had him for two years. Here he is in the garden. Here he is asleep under the table." The photos on her phone show the same white ear and the same crooked tail.

"Namanya Toast," kata keluarga kedua, seorang ibu dan anak perempuan kecil. "Sudah dua tahun dia bersama kami. Ini dia di kebun. Ini dia tidur di bawah meja." Foto-foto di ponsel sang ibu menunjukkan telinga putih yang sama dan ekor bengkok yang sama.

Bertil does what any sensible volunteer would do. He fetches the scanner to check the microchip. It beeps, flashes an error and falls silent. The vet tries two more machines and then shakes her head. "The chip has been damaged, or it has moved," she says. "I can't read it. He could belong to either of you."

Bertil melakukan apa yang akan dilakukan sukarelawan yang bijak. Ia mengambil alat pemindai untuk memeriksa mikrocip. Alat itu berbunyi bip, menyalakan tanda galat, lalu diam. Dokter hewan mencoba dua mesin lain, lalu menggeleng. "Cipnya rusak, atau bergeser," katanya. "Saya tidak bisa membacanya. Dia bisa saja milik salah satu dari Anda."

The dog yawns.

Anjing itu menguap.

Both families begin to speak at once. The little girl starts to cry, and the teenagers fold their arms. For a full minute, nobody listens to anybody. Bertil, who was a schoolteacher for thirty years, recognizes the noise immediately.

Kedua keluarga mulai bicara bersamaan. Anak perempuan kecil itu mulai menangis, dan para remaja melipat tangan. Selama satu menit penuh, tak seorang pun mendengarkan siapa pun. Bertil, yang dulu menjadi guru sekolah selama tiga puluh tahun, langsung mengenali keributan semacam itu.

"I have a proposal," he says. "A fair test. Nobody calls him and nobody touches him. At a quarter to six we take him to the park gate, drop the leash and see where he goes. If he is yours, he will go home."

"Saya punya usul," katanya. "Sebuah ujian yang adil. Tidak ada yang memanggilnya dan tidak ada yang menyentuhnya. Pukul enam kurang seperempat kita bawa dia ke gerbang taman, kita lepas talinya, dan kita lihat ke mana dia pergi. Kalau dia milik Anda, dia akan pulang."

Both families agree, mostly because neither can think of a reason to refuse. Bertil has a private reason for choosing that hour. According to the other volunteers, the dog has stood at the shelter's back door at six sharp every evening since Friday. He looks like someone with a reservation.

Kedua keluarga setuju, sebagian besar karena tak seorang pun bisa memikirkan alasan untuk menolak. Bertil punya alasan pribadi untuk memilih jam itu. Menurut para sukarelawan lain, anjing itu berdiri di pintu belakang penampungan tepat pukul enam setiap sore sejak hari Jumat. Ia tampak seperti orang yang sudah memesan tempat.

At 5:45, the park is quiet. The dog sniffs the gatepost. He looks at the first family, then at the second, then at nothing in particular. At 5:52, he stands, stretches and trots out of the gate without looking back. Everyone follows.

Pukul 5.45, taman itu sepi. Anjing itu mengendus tiang gerbang. Ia menatap keluarga pertama, lalu keluarga kedua, lalu tidak ke mana-mana secara khusus. Pukul 5.52, ia berdiri, meregangkan badan, dan berlari kecil keluar gerbang tanpa menoleh. Semua orang mengikutinya.

He crosses the road, climbs the hill and scratches at the first family's front door. "You see?" says the father, almost in tears. The dog goes inside and empties a bowl in under a minute. He accepts a pat on the head and leaves through a gap in the back hedge, which nobody in the family has ever noticed.

Ia menyeberang jalan, mendaki bukit, dan mencakar pintu depan keluarga pertama. "Lihat?" kata sang ayah, hampir menangis. Anjing itu masuk dan menghabiskan semangkuk makanan dalam waktu kurang dari semenit. Ia menerima belaian di kepala dan keluar lewat celah di pagar tanaman belakang, yang tak pernah disadari siapa pun di keluarga itu.

Down the hill he goes, toward the street by the river, with two families hurrying behind him. He stops on the second family's front step, where a bowl is already waiting.

Ia menuruni bukit, menuju jalan di dekat sungai, dengan dua keluarga bergegas di belakangnya. Ia berhenti di undakan depan rumah keluarga kedua, tempat sebuah mangkuk sudah menunggu.

"I always put it out at six," the mother says weakly. "I thought he was just late."

"Saya selalu menaruhnya pukul enam," kata sang ibu dengan lemah. "Saya kira dia hanya terlambat."

The dog begins his second dinner of the evening. He must have been doing this for two years, Bertil thinks. The families should have compared photos long ago. However, their lost-dog posters, which carried different names, were put up in different neighborhoods.

Anjing itu memulai makan malamnya yang kedua malam itu. Pasti sudah dua tahun ia melakukan ini, pikir Bertil. Seharusnya kedua keluarga sudah lama membandingkan foto. Namun, poster anjing hilang mereka, yang memuat nama berbeda, dipasang di lingkungan yang berbeda.

"Two dinners," the father says at last. "No wonder he has put on weight."

"Dua kali makan malam," kata sang ayah akhirnya. "Pantas saja dia jadi gemuk."

The little girl wipes her nose. "Can he be Pilot on weekdays and Toast on weekends?"

Anak perempuan kecil itu mengusap hidungnya. "Boleh tidak dia jadi Pilot pada hari kerja dan Toast pada akhir pekan?"

Nobody has a better suggestion. Bertil writes a new tag with two phone numbers and no name at all. The dog, lying on the pavement between the two families, has already fallen asleep.

Tak seorang pun punya usul yang lebih baik. Bertil menulis tanda pengenal baru dengan dua nomor telepon dan sama sekali tanpa nama. Anjing itu, berbaring di trotoar di antara kedua keluarga, sudah tertidur.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. Why can the vet not tell which family owns the dog?

    Lihat jawaban

    Jawaban: The microchip cannot be read

    The scanner shows an error, so the chip may be damaged or may have moved.

  2. How does Bertil run his fair test?

    Lihat jawaban

    Jawaban: He lets the dog go at dinner time and follows where he walks

    The dog is released at a quarter to six and everyone follows him.

  3. What does the test show?

    Lihat jawaban

    Jawaban: The dog has been eating dinner at both homes

    He eats at the first house, slips through a hedge and eats again at the second.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play