The Annotated Copy
Cerita bahasa Inggris gratis level B2 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
A book club member finds unsettlingly accurate pencil notes in her secondhand copy, and traces them back to a reader she has never met.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Lena's book club always used secondhand copies, ordered in bulk from the same shop downtown to save money. So she thought nothing of the pencil notes already scattered through the margins of her latest book. Other readers' comments were normal enough. What was strange was how accurate they were.
Klub buku Lena selalu memakai buku bekas, dipesan dalam jumlah besar dari toko yang sama di pusat kota demi menghemat biaya. Jadi ia tidak memikirkan apa-apa soal catatan pensil yang sudah bertebaran di margin buku terbarunya. Komentar dari pembaca lain itu cukup wajar. Yang aneh adalah betapa tepatnya catatan-catatan itu.
Three pages before a major twist, a small note in the margin read: "Watch what happens to the letter." Lena hadn't reached that part of the discussion with anyone yet, and the book club hadn't met to discuss it either. Further in, another note appeared exactly where a minor character's name changed meaning entirely. It flagged the twist a full chapter before most readers would notice.
Tiga halaman sebelum sebuah kejutan besar, sebuah catatan kecil di margin berbunyi: "Perhatikan apa yang terjadi pada surat itu." Lena belum membahas bagian itu dengan siapa pun, dan klub bukunya pun belum bertemu untuk membahasnya. Lebih jauh, catatan lain muncul persis di tempat nama seorang tokoh sampingan berubah makna sepenuhnya. Catatan itu menandai kejutannya sebab satu bab penuh sebelum kebanyakan pembaca menyadarinya.
By the time she reached the final chapters, Lena had started half-joking to her husband. Maybe her copy was haunted, or someone from the club had somehow read her mind. She brought the book to the next meeting and passed it around. Several other members admitted, a little sheepishly, that their copies had similar notes, written in the same careful pencil hand.
Ketika mencapai bab-bab terakhir, Lena sudah mulai setengah bercanda kepada suaminya. Mungkin bukunya berhantu, atau seseorang dari klub entah bagaimana telah membaca pikirannya. Ia membawa buku itu ke pertemuan berikutnya dan mengedarkannya. Beberapa anggota lain mengaku, agak malu-malu, bahwa buku mereka juga punya catatan serupa, ditulis dengan tulisan tangan pensil yang rapi dan sama.
Someone finally asked the bookshop owner about it the following week, expecting a strange story. Instead, the explanation turned out to be pleasantly simple. The club always bought a particular publisher's edition in bulk because it was cheapest. Most of those secondhand copies had originally come from the same donated collection. Years earlier, it had been sold off by a reader named Soren, who had annotated nearly everything he owned before moving abroad.
Seseorang akhirnya menanyakannya kepada pemilik toko buku minggu berikutnya, mengharapkan cerita yang aneh. Sebaliknya, penjelasannya ternyata sederhana dan menyenangkan. Klub itu selalu membeli edisi dari penerbit tertentu dalam jumlah besar karena paling murah. Kebanyakan buku bekas itu berasal dari koleksi donasi yang sama. Bertahun-tahun lalu, koleksi itu dijual oleh seorang pembaca bernama Soren, yang telah mencatat nyaris semua bukunya sebelum pindah ke luar negeri.
His notes had simply been circulating through the club for years, distributed randomly whenever a new batch of books arrived. Occasionally, they landed in the hands of a reader who noticed how sharp his observations were. Nobody in the club had ever met him, and the bookshop owner admitted she didn't even have a current address for him anymore.
Catatan-catatannya begitu saja beredar di klub itu selama bertahun-tahun, tersebar acak setiap kali kiriman buku baru tiba. Kadang-kadang, catatan itu jatuh ke tangan pembaca yang menyadari betapa tajamnya pengamatannya. Tak seorang pun di klub pernah bertemu dengannya, dan pemilik toko mengaku bahkan tidak punya alamat terbaru Soren lagi.
Lena kept the book afterward instead of returning it to the shop's used pile. A stranger's careful reading, even one she would never get to thank in person, deserved a permanent home on her own shelf.
Setelah itu Lena menyimpan buku tersebut, tidak mengembalikannya ke tumpukan buku bekas toko. Pembacaan seorang asing yang cermat, bahkan yang tak akan pernah bisa ia ucapkan terima kasih secara langsung, layak mendapat tempat permanen di rak miliknya sendiri.






