The Unabridged Book Club
Cerita bahasa Inggris gratis level C1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
A neighborhood book club discovers that every member has secretly abandoned the fourteen-hundred-page novel they insisted on reading unabridged.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
The Elm Street Book Club had one rule everyone agreed on: summer meant something light. This year, however, Mireille had proposed the unabridged Russian novel, all fourteen hundred pages of it, and nobody had objected loudly enough, in the moment, to stop her.
Klub Buku Elm Street punya satu aturan yang disepakati semua orang: musim panas berarti bacaan ringan. Namun tahun ini Mireille mengusulkan novel Rusia versi lengkap, seluruh seribu empat ratus halamannya, dan tak seorang pun menolak cukup keras, pada saat itu, untuk menghentikannya.
Renata realized her mistake only in July, three hundred pages behind schedule, when Mireille sent the group a spreadsheet tracking everyone's declared reading pace against their actual one. Bea was eleven days behind. Faisal, worse still, had apparently stalled on page two hundred and never moved again.
Renata baru menyadari kekeliruannya pada bulan Juli, tertinggal tiga ratus halaman dari jadwal, ketika Mireille mengirimkan ke grup sebuah lembar kerja yang melacak kecepatan membaca yang dinyatakan setiap orang dibandingkan kecepatan sebenarnya. Bea tertinggal sebelas hari. Faisal, lebih parah lagi, rupanya mandek di halaman dua ratus dan tak pernah bergerak lagi.
"It's not a competition," Mireille wrote, in the exact tone of someone for whom it plainly was.
"Ini bukan kompetisi," tulis Mireille, dengan nada persis orang yang bagi dirinya itu jelas-jelas kompetisi.
What nobody said aloud, though everyone was clearly thinking it, was that an abridged edition existed, sold openly in the very bookstore where they held their meetings. Renata bought a copy in secret on a Tuesday and read it in four days, feeling a guilt so specific that she assumed, incorrectly, she was the only member doing it.
Yang tak seorang pun ucapkan keras-keras, meski semua orang jelas memikirkannya, adalah bahwa ada edisi ringkasnya, dijual terang-terangan di toko buku tempat mereka mengadakan pertemuan. Renata membeli satu secara diam-diam pada hari Selasa dan membacanya dalam empat hari, dengan rasa bersalah yang begitu spesifik sampai ia mengira, keliru, hanya dirinya anggota yang melakukannya.
She was not. At the next meeting, Faisal was suspiciously fluent about a subplot involving a duel that the unabridged edition covered in exhaustive military detail across sixty pages. Bea, when pressed gently on a minor character's fate, answered with a confidence that suggested she, too, had taken the shortcut everyone was pretending not to know about.
Ternyata tidak. Pada pertemuan berikutnya, Faisal mencurigakan fasihnya membahas alur sampingan tentang sebuah duel yang dalam edisi lengkap dibahas dengan detail militer yang menyeluruh sepanjang enam puluh halaman. Bea, ketika ditanya pelan-pelan tentang nasib seorang tokoh kecil, menjawab dengan keyakinan yang menunjukkan bahwa ia pun mengambil jalan pintas yang semua orang pura-pura tidak tahu.
It was Mireille, unexpectedly, who broke first. Had anyone actually asked her directly whether she'd finished the unabridged edition, she would have had to admit something embarrassing. She'd switched to the abridged one around page nine hundred and simply never mentioned it.
Mireille, tanpa diduga, yang pertama menyerah. Seandainya ada yang benar-benar menanyainya langsung apakah ia sudah menamatkan edisi lengkap, ia harus mengakui sesuatu yang memalukan. Ia berpindah ke edisi ringkas sekitar halaman sembilan ratus dan tak pernah menyebutkannya.
"I panicked," she admitted, when Renata finally asked. "I chose the book. I couldn't be the one who didn't finish it."
"Aku panik," akunya, ketika Renata akhirnya bertanya. "Aku yang memilih bukunya. Aku nggak bisa jadi orang yang tidak menamatkannya."
What followed was not quite an argument and not quite a confession, but something close to both. Four adults, each convinced they alone had cheated, discovered that the entire club had quietly abandoned the very book it insisted on discussing in full.
Yang terjadi sesudahnya bukan tepat sebuah pertengkaran dan bukan tepat sebuah pengakuan, melainkan sesuatu yang mendekati keduanya. Empat orang dewasa, masing-masing yakin hanya dirinya yang curang, mendapati bahwa seluruh klub diam-diam telah meninggalkan buku yang justru mereka tekankan untuk dibahas tuntas.
Rarely had a group felt so relieved to admit collective failure. Bea laughed first, then Faisal, and finally Mireille, who put her head down on the café table and stayed there for a full minute, shaking with something between horror and delight.
Jarang sekali sebuah kelompok merasa selega itu mengakui kegagalan bersama. Bea tertawa pertama, lalu Faisal, dan akhirnya Mireille, yang menaruh kepalanya di meja kafe dan bertahan di sana selama satu menit penuh, bergetar karena sesuatu di antara ngeri dan senang.
"So what," Renata asked, once the laughter settled, "do we actually talk about tonight?"
"Jadi," tanya Renata, begitu tawa mereda, "malam ini kita sebenarnya membicarakan apa?"
They ended up discussing, in surprising depth, a scene none of them had technically read in full: the duel, which each had pieced together from a different combination of chapters, summaries, and educated guessing. It was, everyone agreed afterward, probably the best conversation the club had ever had about a book none of them had properly finished.
Akhirnya mereka membahas, dengan kedalaman yang mengejutkan, sebuah adegan yang secara teknis tak satu pun dari mereka membaca utuh: duel itu, yang masing-masing mereka susun dari kombinasi bab, ringkasan, dan tebakan berdasar yang berbeda-beda. Semua sepakat sesudahnya, itu mungkin obrolan terbaik yang pernah dilakukan klub itu tentang sebuah buku yang tak satu pun dari mereka selesaikan dengan benar.
Next month, by unanimous and immediate vote, they were reading something under three hundred pages, and nobody pretended otherwise.
Bulan depan, melalui pemungutan suara bulat dan seketika, mereka membaca sesuatu yang kurang dari tiga ratus halaman, dan tak seorang pun berpura-pura sebaliknya.






