Storyteller

The Three Princesses of Whiteland

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fairy-tale, adventure
Reading time
12 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Three Princesses of Whiteland cover

A fisherman's son, promised away before he was even born, is swept off to a strange land where three princesses stand buried to their necks — and only he can free them, if he dares face the trolls.

Once on a time there was a fisherman who lived close by a palace, and fished for the king’s table. One day when he was out fishing he just caught nothing. Do what he would—however he tried with bait and angle—there was never a sprat on his hook. But when the day was far spent a head bobbed up out of the water, and said:

Pada suatu masa hiduplah seorang nelayan yang tinggal dekat sebuah istana, dan menangkap ikan untuk meja raja. Suatu hari ketika ia sedang memancing, ia sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Apa pun yang ia lakukan—betapapun ia mencoba dengan umpan dan kail—tak pernah ada seekor ikan pun yang tersangkut di kailnya. Namun ketika hari sudah jauh berlalu, sebuah kepala muncul dari air, dan berkata:

“If I may have what your wife bears under her girdle, you shall catch fish enough.”

"Jika aku boleh mendapatkan apa yang dikandung istrimu di balik ikat pinggangnya, kau akan mendapat ikan yang cukup."

So the man answered boldly, “Yes”; for he did not know that his wife was going to have a child. After that, as was like enough, he caught plenty of fish of all kinds. But when he got home at night and told his story, how he had got all that fish, his wife fell a-weeping and moaning, and was beside herself for the promise which her husband had made, for she said, “I bear a babe under my girdle.”

Maka lelaki itu menjawab dengan berani, "Ya"; sebab ia tidak tahu bahwa istrinya sedang mengandung seorang anak. Setelah itu, seperti sudah semestinya, ia menangkap banyak ikan dari segala jenis. Tetapi ketika ia pulang malam itu dan menceritakan kisahnya, bagaimana ia mendapatkan semua ikan itu, istrinya menangis dan meratap, dan tak bisa menenangkan diri karena janji yang telah dibuat suaminya, sebab katanya, "Aku mengandung seorang bayi di balik ikat pinggangku."

Well, the story soon spread, and came up to the castle; and when the king heard the woman’s grief and its cause, he sent down to say he would take care of the child, and see if he couldn’t save it.

Nah, kisah itu segera tersebar, dan sampai ke istana; dan ketika raja mendengar kesedihan perempuan itu dan sebabnya, ia mengirim pesan bahwa ia akan mengurus anak itu, dan melihat apakah ia bisa menyelamatkannya.

So the months went on and on, and when her time came the fisher’s wife had a boy; so the king took it at once, and brought it up as his own son, until the lad grew up. Then he begged leave one day to go out fishing with his father; he had such a mind to go, he said. At first the king wouldn’t hear of it, but at last the lad had his way, and went. So he and his father were out the whole day, and all went right and well till they landed at night.

Maka bulan demi bulan pun berlalu, dan ketika waktunya tiba istri nelayan itu melahirkan seorang anak laki-laki; maka raja segera mengambilnya, dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri, hingga anak itu tumbuh dewasa. Kemudian suatu hari ia memohon izin untuk pergi memancing bersama ayahnya; ia begitu ingin pergi, katanya. Mulanya raja tidak mau mendengarnya, tetapi akhirnya anak itu mendapatkan keinginannya, dan pergi. Maka ia dan ayahnya berada di luar sepanjang hari, dan semuanya berjalan baik dan lancar hingga mereka mendarat pada malam hari.

Then the lad remembered he had left his handkerchief, and went to look for it; but as soon as ever he got into the boat, it began to move off with him at such speed that the water roared under the bow, and all the lad could do in rowing against it with the oars was no use; so he went and went the whole night, and at last he came to a white strand, far far away.

Kemudian anak itu teringat ia telah meninggalkan sapu tangannya, dan pergi mencarinya; tetapi begitu ia masuk ke dalam perahu, perahu itu mulai bergerak menjauh bersamanya dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga air bergemuruh di bawah haluannya, dan segala usaha anak itu mendayung melawan arus itu sia-sia saja; maka ia terus pergi dan pergi sepanjang malam, dan akhirnya ia tiba di sebuah pantai putih, jauh sekali di sana.

There he went ashore, and when he had walked about a bit, an old, old man met him, with a long white beard.

Di sana ia turun ke darat, dan setelah berjalan sedikit, seorang lelaki tua sekali menemuinya, dengan janggut putih panjang.

“What’s the name of this land?” asked the lad.

"Apa nama negeri ini?" tanya anak itu.

“Whiteland”, said the man, who went on to ask the lad whence he came, and what he was going to do. So the lad told him all.

"Whiteland," kata lelaki itu, yang lalu bertanya dari mana asal anak itu, dan apa yang hendak ia lakukan. Maka anak itu menceritakan semuanya kepadanya.

“Aye, aye!” said the man; “now when you have walked a little farther along the strand here, you’ll come to three Princesses, whom you will see standing in the earth up to their necks, with only their heads out. Then the first—she is the eldest—will call out and beg you so prettily to come and help her; and the second will do the same; to neither of these shall you go; make haste past them, as if you neither saw nor heard anything. But the third you shall go to, and do what she asks. If you do this, you’ll have good luck—that’s all.”

"Ya, ya!" kata lelaki itu; "sekarang setelah kau berjalan sedikit lagi di sepanjang pantai ini, kau akan sampai pada tiga Putri, yang akan kau lihat berdiri terpendam di dalam tanah hingga leher mereka, hanya kepala mereka yang tampak. Kemudian yang pertama—ia yang tertua—akan berseru dan memohon dengan begitu manis agar kau datang membantunya; dan yang kedua akan melakukan hal yang sama; jangan kau datangi salah satu dari mereka; bergegaslah melewati mereka, seolah kau tak melihat maupun mendengar apa pun. Tetapi kepada yang ketiga kau harus mendatanginya, dan lakukan apa yang ia minta. Jika kau melakukan ini, kau akan mendapat keberuntungan—itu saja."

When the lad came to the first Princess, she called out to him, and begged him so prettily to come to her, but he passed on as though he saw her not. In the same way he passed by the second; but to the third he went straight up.

Ketika anak itu sampai pada Putri yang pertama, ia berseru kepadanya, dan memohon dengan begitu manis agar ia datang kepadanya, tetapi ia terus berjalan seolah tak melihatnya. Dengan cara yang sama ia melewati yang kedua; tetapi kepada yang ketiga ia berjalan langsung menghampirinya.

“If you’ll do what I bid you”, she said, “you may have which of us you please.”

"Jika kau mau melakukan apa yang kuperintahkan," katanya, "kau boleh memilih salah satu dari kami yang kau suka."

“Yes”; he was willing enough; so she told him how three Trolls had set them down in the earth there; but before they had lived in the castle up among the trees.

"Ya"; ia cukup bersedia; maka ia menceritakan bagaimana tiga Troll telah menanamkan mereka di dalam tanah itu; padahal sebelumnya mereka tinggal di istana di antara pepohonan.

“Now”, she said, “you must go into that castle, and let the Trolls whip you each one night for each of us. If you can bear that, you’ll set us free.”

"Sekarang," katanya, "kau harus masuk ke dalam istana itu, dan biarkan para Troll mencambukmu satu malam untuk masing-masing dari kami. Jika kau bisa menahan itu, kau akan membebaskan kami."

Well, the lad said he was ready to try.

Nah, anak itu berkata ia siap mencobanya.

“When you go in”, the Princess went on to say, “you’ll see two lions standing at the gate; but if you’ll only go right in the middle between them they’ll do you no harm. Then go straight on into a little dark room, and make your bed. Then the Troll will come to whip you; but if you take the flask which hangs on the wall, and rub yourself with the ointment that’s in it, wherever his lash falls, you’ll be as sound as ever. Then grasp the sword that hangs by the side of the flask and strike the Troll dead.”

"Ketika kau masuk," lanjut Putri itu, "kau akan melihat dua singa berdiri di gerbang; tetapi jika kau berjalan langsung di tengah-tengah di antara mereka, mereka tak akan mencelakaimu. Kemudian teruslah masuk ke sebuah kamar kecil yang gelap, dan siapkan tempat tidurmu. Kemudian Troll itu akan datang untuk mencambukmu; tetapi jika kau mengambil botol yang tergantung di dinding, dan menggosokkan salep yang ada di dalamnya, di mana pun cambukannya jatuh, kau akan sesehat sedia kala. Kemudian genggam pedang yang tergantung di samping botol itu dan pukul mati Troll itu."

Yes, he did as the Princess told him; he passed in the midst between the lions, as if he hadn’t seen them, and went straight into the little room, and there he lay down to sleep. The first night there came a Troll with three heads and three rods, and whipped the lad soundly; but he stood it till the Troll was done; then he took the flask and rubbed himself, and grasped the sword and slew the Troll.

Ya, ia melakukan seperti yang dikatakan Putri itu; ia berjalan di tengah-tengah antara kedua singa itu, seolah ia tak melihat mereka, dan langsung masuk ke kamar kecil itu, dan di sana ia berbaring untuk tidur. Malam pertama datanglah seekor Troll berkepala tiga dengan tiga tongkat, dan mencambuk anak itu habis-habisan; tetapi ia bertahan hingga Troll itu selesai; kemudian ia mengambil botol itu dan menggosokkan salepnya, dan menggenggam pedang itu dan membunuh Troll tersebut.

So, when he went out next morning, the Princesses stood out of the earth up to their waists.

Jadi, ketika ia keluar keesokan paginya, para Putri itu telah berdiri keluar dari tanah hingga pinggang mereka.

The next night ’twas the same story over again, only this time the Troll had six heads and six rods, and he whipped him far worse than the first; but when he went out next morning, the Princesses stood out of the earth as far as the knee.

Malam berikutnya kisah yang sama terulang lagi, hanya kali ini Troll itu berkepala enam dan bertongkat enam, dan ia mencambuknya jauh lebih parah dari yang pertama; tetapi ketika ia keluar keesokan paginya, para Putri itu telah berdiri keluar dari tanah sejauh lutut mereka.

The third night there came a Troll that had nine heads and nine rods, and he whipped and flogged the lad so long that he fainted away; then the Troll took him up and dashed him against the wall; but the shock brought down the flask, which fell on the lad, burst, and spilled the ointment all over him, and so he became as strong and sound as ever again. Then he wasn’t slow; he grasped the sword and slew the Troll;

Malam ketiga datanglah seekor Troll yang berkepala sembilan dan bertongkat sembilan, dan ia mencambuk serta menghajar anak itu begitu lama sehingga ia pingsan; kemudian Troll itu mengangkatnya dan membantingnya ke dinding; tetapi hentakan itu menjatuhkan botol tersebut, yang jatuh menimpa anak itu, pecah, dan menumpahkan salepnya ke sekujur tubuhnya, sehingga ia kembali sekuat dan sesehat sedia kala. Kemudian ia tak berlambat-lambat; ia menggenggam pedang itu dan membunuh Troll tersebut;

and next morning when he went out of the castle the Princesses stood before him with all their bodies out of the earth. So he took the youngest for his Queen, and lived well and happily with her for some time.

dan keesokan paginya ketika ia keluar dari istana itu, para Putri berdiri di hadapannya dengan seluruh tubuh mereka telah keluar dari tanah. Maka ia memilih yang termuda sebagai Ratunya, dan hidup dengan baik dan bahagia bersamanya untuk beberapa waktu.

At last he began to long to go home for a little to see his parents. His Queen did not like this; but at last his heart was so set on it, and he longed and longed so much, there was no holding him back, so she said,

Akhirnya ia mulai merindukan untuk pulang sebentar menemui orang tuanya. Ratunya tidak menyukai hal ini; tetapi akhirnya hatinya begitu bertekad, dan ia begitu merindukannya, sehingga tak ada yang bisa menahannya, maka ia berkata,

“One thing you must promise me. This—Only to do what your father begs you to do, and not what your mother wishes”; and that he promised.

"Satu hal yang harus kau janjikan padaku. Ini—Hanya lakukan apa yang diminta ayahmu untuk kau lakukan, dan bukan apa yang diinginkan ibumu"; dan hal itu ia janjikan.

Then she gave him a ring, which was of that kind that any one who wore it might wish two wishes. So he wished himself home, and when he got home his parents could not wonder enough what a grand man their son had become.

Kemudian ia memberinya sebuah cincin, yang jenisnya adalah bahwa siapa pun yang memakainya bisa mengucapkan dua permintaan. Maka ia mengharapkan dirinya pulang, dan ketika ia sampai di rumah, orang tuanya tak habis-habisnya heran betapa hebatnya anak mereka telah menjadi.

Now, when he had been at home some days, his mother wished him to go up to the palace and show the king what a fine fellow he had come to be. But his father said:

Setelah ia berada di rumah beberapa hari, ibunya menginginkan ia pergi ke istana dan menunjukkan kepada raja betapa hebatnya ia telah menjadi. Tetapi ayahnya berkata:

“No! don’t let him do that; if he does, we shan’t have any more joy of him this time.”

"Jangan! jangan biarkan ia melakukan itu; jika ia melakukannya, kita tak akan punya lagi kegembiraan bersamanya kali ini."

But it was no good, the mother begged and prayed so long, that at last he went. So when he got up to the palace, he was far braver, both in clothes and array, than the other king, who didn’t quite like this, and at last he said:

Tetapi tak ada gunanya, ibunya memohon dan berdoa begitu lama, sehingga akhirnya ia pergi juga. Maka ketika ia sampai di istana, ia jauh lebih gagah, baik dalam pakaian maupun perlengkapannya, dibandingkan raja yang lain itu, yang tidak begitu menyukai hal ini, dan akhirnya ia berkata:

“All very fine; but here you can see my queen, what like she is, but I can’t see yours, that I can’t. Do you know, I scarce think she’s so good-looking as mine.”

"Semuanya bagus sekali; tetapi di sini kau bisa melihat ratuku, seperti apa rupanya, tetapi aku tak bisa melihat ratumu, itu tak bisa. Tahukah kau, aku hampir berpikir ia tak secantik ratuku."

“Would to Heaven”, said the young king, “she were standing here, then you’d see what she was like.” And that instant there she stood before them.

"Semoga Tuhan berkenan," kata raja muda itu, "agar ia berdiri di sini, maka kau akan melihat seperti apa rupanya." Dan seketika itu juga ia berdiri di hadapan mereka.

But she was very woeful, and said to him:

Tetapi ia tampak sangat sedih, dan berkata kepadanya:

“Why did you not mind what I told you; and why did you not listen to what your father said? Now, I must away home, and as for you, you have had both your wishes.”

"Mengapa kau tak mengindahkan apa yang kukatakan padamu; dan mengapa kau tak mendengarkan apa yang dikatakan ayahmu? Sekarang, aku harus pulang, dan bagimu, kau telah mendapatkan kedua permintaanmu."

With that she knitted a ring among his hair with her name on it, and wished herself home, and was off.

Dengan itu ia menganyam sebuah cincin di rambutnya dengan namanya tertulis di sana, dan mengharapkan dirinya pulang, dan pergilah ia.

Then the young king was cut to the heart, and went, day out day in, thinking and thinking how he should get back to his queen. “I’ll just try”, he thought, “if I can’t learn where Whiteland lies”; and so he went out into the world to ask. So when he had gone a good way, he came to a high hill, and there he met one who was lord over all the beasts of the wood, for they all came home to him when he blew his horn; so the king asked if he knew where Whiteland was?

Maka raja muda itu terluka hatinya, dan berjalan, hari demi hari, memikirkan dan memikirkan bagaimana ia bisa kembali kepada ratunya. "Aku akan mencoba," pikirnya, "apakah aku bisa mengetahui di mana letak Whiteland"; maka ia pun pergi ke dunia luar untuk bertanya. Maka setelah ia berjalan jauh, ia sampai pada sebuah bukit tinggi, dan di sana ia bertemu seseorang yang menjadi tuan atas segala binatang hutan, sebab semuanya pulang kepadanya ketika ia meniup tanduknya; maka raja itu bertanya apakah ia tahu di mana Whiteland berada?

“No, I don’t”, said he, “but I’ll ask my beasts.” Then he blew his horn and called them, and asked if any of them knew where Whiteland lay? but there was no beast that knew.

"Tidak, aku tak tahu," katanya, "tetapi aku akan bertanya kepada binatang-binatangku." Kemudian ia meniup tanduknya dan memanggil mereka, dan bertanya apakah ada di antara mereka yang tahu di mana letak Whiteland? tetapi tak ada binatang yang tahu.

So the man gave him a pair of snow-shoes.

Maka lelaki itu memberinya sepasang sepatu salju.

“When you get on these”, he said, “you’ll come to my brother, who lives hundreds of miles off; he is lord over all the birds of the air. Ask him. When you reach his house, just turn the shoes, so that the toes point this way, and they’ll come home of themselves.” So when the king reached the house, he turned the shoes as the lord of the beasts had said, and away they went home of themselves.

"Ketika kau memakai ini," katanya, "kau akan sampai pada saudaraku, yang tinggal beratus-ratus mil jauhnya; ia adalah tuan atas segala burung di udara. Tanyakan padanya. Ketika kau sampai di rumahnya, cukup balikkan sepatu itu, sehingga ujungnya menghadap ke sini, dan mereka akan pulang dengan sendirinya." Maka ketika raja itu sampai di rumah tersebut, ia membalikkan sepatu itu seperti yang dikatakan tuan atas para binatang, dan sepatu itu pun pergi pulang dengan sendirinya.

So he asked again after Whiteland, and the man called all the birds with a blast of his horn, and asked if any of them knew where Whiteland lay; but none of the birds knew. Now, long, long after the rest of the birds, came an old eagle, which had been away ten round years, but he couldn’t tell any more than the rest.

Maka ia bertanya lagi tentang Whiteland, dan lelaki itu memanggil semua burung dengan tiupan tanduknya, dan bertanya apakah ada di antara mereka yang tahu di mana letak Whiteland; tetapi tak seekor burung pun tahu. Kini, jauh, jauh setelah burung-burung yang lain, datanglah seekor elang tua, yang telah pergi selama sepuluh tahun penuh, tetapi ia pun tak bisa memberitahu lebih dari yang lain.

“Well! well!” said the man, “I’ll lend you a pair of snow-shoes, and when you get them on, they’ll carry you to my brother, who lives hundreds of miles off; he’s lord of all the fish in the sea; you’d better ask him. But don’t forget to turn the toes of the shoes this way.”

"Baiklah! baiklah!" kata lelaki itu, "aku akan meminjamkanmu sepasang sepatu salju, dan ketika kau memakainya, sepatu itu akan membawamu kepada saudaraku, yang tinggal beratus-ratus mil jauhnya; ia adalah tuan atas segala ikan di laut; sebaiknya kau tanyakan padanya. Tetapi jangan lupa membalikkan ujung sepatu itu ke arah sini."

The king was full of thanks, got on the shoes, and when he came to the man who was lord over the fish of the sea, he turned the toes round, and so off they went home like the other pair. After that, he asked again after Whiteland.

Raja itu penuh rasa terima kasih, memakai sepatu itu, dan ketika ia sampai pada lelaki yang menjadi tuan atas ikan-ikan di laut, ia membalikkan ujungnya, dan sepatu itu pun pergi pulang seperti pasangan yang sebelumnya. Setelah itu, ia bertanya lagi tentang Whiteland.

So the man called the fish with a blast, but no fish could tell where it lay. At last came an old pike, which they had great work to call home, he was such a way off. So when they asked him he said:

Maka lelaki itu memanggil ikan-ikan dengan tiupan tanduknya, tetapi tak ada ikan yang bisa memberitahu di mana letaknya. Akhirnya datanglah seekor tombak tua, yang mereka begitu sulit memanggilnya pulang, sedemikian jauhnya ia berada. Maka ketika mereka bertanya kepadanya, ia berkata:

“Know it! I should think I did. I’ve been cook there ten years, and to-morrow I’m going there again; for now, the queen of Whiteland, whose king is away, is going to wed another husband.”

"Tahu itu! Tentu saja aku tahu. Aku telah menjadi juru masak di sana selama sepuluh tahun, dan besok aku akan ke sana lagi; sebab sekarang, ratu Whiteland, yang rajanya sedang pergi, akan menikah dengan suami lain."

“Well!” said the man, “as this is so, I’ll give you a bit of advice. Hereabouts, on a moor, stand three brothers, and here they have stood these hundred years, fighting about a hat, a cloak, and a pair of boots. If any one has these three things he can make himself invisible, and wish himself any where he pleases. You can tell them you wish to try the things, and after that, you’ll pass judgment between them, whose they shall be.”

"Baiklah!" kata lelaki itu, "karena begitu keadaannya, aku akan memberimu sedikit nasihat. Di sekitar sini, di sebuah rawa, berdiri tiga bersaudara, dan mereka telah berdiri di sana selama seratus tahun, berkelahi memperebutkan sebuah topi, sebuah jubah, dan sepasang sepatu bot. Jika seseorang memiliki ketiga benda ini, ia bisa membuat dirinya tak terlihat, dan mengharapkan dirinya berada di mana pun ia suka. Kau bisa memberitahu mereka bahwa kau ingin mencoba benda-benda itu, dan setelah itu, kau akan memberikan putusan di antara mereka, milik siapa benda-benda itu seharusnya."

Yes! the king thanked the man, and went and did as he told him.

Ya! raja itu berterima kasih kepada lelaki itu, dan pergi serta melakukan seperti yang dikatakannya.

“What’s all this?” he said to the brothers. “Why do you stand here fighting for ever and a day? Just let me try these things, and I’ll give judgment whose they shall be.”

"Apa ini semua?" katanya kepada saudara-saudara itu. "Mengapa kalian berdiri di sini berkelahi selama-lamanya? Biarkan aku mencoba benda-benda ini, dan aku akan memberikan putusan milik siapa benda-benda itu seharusnya."

They were very willing to do this; but as soon as he had got the hat, cloak, and boots, he said:

Mereka sangat bersedia melakukan ini; tetapi begitu ia mendapatkan topi, jubah, dan sepatu bot itu, ia berkata:

“When we meet next time, I’ll tell you my judgment”, and with these words he wished himself away.

"Ketika kita bertemu lagi lain kali, aku akan memberitahu kalian putusanku," dan dengan kata-kata ini ia mengharapkan dirinya pergi.

So as he went along up in the air, he came up with the North Wind.

Maka saat ia melayang di udara, ia bertemu dengan Angin Utara.

“Whither away?” roared the North Wind.

"Hendak ke mana?" gemuruh Angin Utara.

“To Whiteland”, said the king; and then he told him all that had befallen him.

"Ke Whiteland," kata raja itu; dan kemudian ia menceritakan semua yang telah menimpanya.

“Ah”, said the North Wind, “you go faster than I—you do; for you can go straight, while I have to puff and blow round every turn and corner. But when you get there, just place yourself on the stairs by the side of the door, and then I’ll come storming in, as though I were going to blow down the whole castle. And then when the prince, who is to have your queen, comes out to see what’s the matter, just you take him by the collar and pitch him out of doors; then I’ll look after him, and see if I can’t carry him off.”

"Ah," kata Angin Utara, "kau berjalan lebih cepat dariku—benar begitu; sebab kau bisa berjalan lurus, sementara aku harus meniup dan mengembus di sekeliling setiap tikungan dan sudut. Tetapi ketika kau sampai di sana, cukup tempatkan dirimu di tangga di samping pintu, dan kemudian aku akan datang menerjang masuk, seolah aku hendak meruntuhkan seluruh istana itu. Dan kemudian ketika pangeran, yang akan mendapatkan ratumu, keluar untuk melihat ada apa, cukup kau tangkap ia pada kerahnya dan lemparkan ia keluar pintu; kemudian aku akan mengurusnya, dan melihat apakah aku bisa membawanya pergi."

Well—the king did as the North Wind said. He took his stand on the stairs, and when the North Wind came, storming and roaring, and took hold of the castle wall, so that it shook again, the prince came out to see what was the matter. But as soon as ever he came, the king caught him by the collar and pitched him out of doors, and then the North Wind caught him up and carried him off.

Nah—raja itu melakukan seperti yang dikatakan Angin Utara. Ia berdiri di tangga, dan ketika Angin Utara datang, menerjang dan menggemuruh, dan mencengkeram dinding istana itu, sehingga bergetar hebat, sang pangeran keluar untuk melihat ada apa. Tetapi begitu ia keluar, raja itu menangkapnya pada kerahnya dan melemparkannya keluar pintu, dan kemudian Angin Utara mencengkeramnya dan membawanya pergi.

So when there was an end of him, the king went into the castle, and at first his queen didn’t know him, he was so wan and thin, through wandering so far and being so woeful; but when he shewed her the ring, she was as glad as glad could be; and so the rightful wedding was held, and the fame of it spread far and wide.

Maka ketika urusan dengannya telah berakhir, raja itu masuk ke dalam istana, dan mulanya ratunya tak mengenalinya, ia begitu pucat dan kurus, karena mengembara begitu jauh dan begitu sedih; tetapi ketika ia menunjukkan cincin itu kepadanya, ia begitu bahagia; dan demikianlah pernikahan yang sah itu diadakan, dan kemasyhurannya tersebar luas.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play