Storyteller

Jack and the Beanstalk

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fairy-tale, adventure
Reading time
13 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
Jack and the Beanstalk cover

A boy trades the family cow for magic beans and climbs the giant beanstalk that grows overnight, straight into a giant's castle in the clouds.

There was once upon a time a poor widow who had an only son named Jack, and a cow named Milky-white. And all they had to live on was the milk the cow gave every morning which they carried to the market and sold. But one morning Milky-white gave no milk and they didn't know what to do.

Dahulu kala ada seorang janda miskin yang punya seorang anak laki-laki bernama Jack, dan seekor sapi bernama Milky-white. Dan semua yang mereka miliki untuk hidup hanyalah susu yang diberikan sapi itu setiap pagi yang mereka bawa ke pasar dan jual. Tetapi suatu pagi Milky-white tak menghasilkan susu dan mereka tak tahu harus berbuat apa.

“What shall we do, what shall we do?” said the widow, wringing her hands.

"Apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita lakukan?" kata sang janda, sambil meremas-remas tangannya.

“Cheer up, mother, I'll go and get work somewhere,” said Jack.

"Tenanglah, Ibu, aku akan pergi mencari pekerjaan di suatu tempat," kata Jack.

“We've tried that before, and nobody would take you,” said his mother; “we must sell Milky-white and with the money do something, start shop, or something.”

"Kita sudah mencoba itu sebelumnya, dan tak ada yang mau menerimamu," kata ibunya; "kita harus menjual Milky-white dan dengan uangnya melakukan sesuatu, buka toko, atau semacamnya."

“All right, mother,” says Jack; “it's market-day today, and I'll soon sell Milky-white, and then we'll see what we can do.”

"Baiklah, Ibu," kata Jack; "hari ini hari pasar, dan aku akan segera menjual Milky-white, lalu kita lihat apa yang bisa kita lakukan."

So he took the cow's halter in his hand, and off he starts. He hadn't gone far when he met a funny-looking old man who said to him: “Good morning, Jack.”

Maka ia mengambil tali kekang sapi itu di tangannya, dan berangkatlah ia. Belum jauh ia berjalan ketika ia bertemu seorang lelaki tua berpenampilan lucu yang berkata kepadanya: "Selamat pagi, Jack."

“Good morning to you,” said Jack, and wondered how he knew his name.

"Selamat pagi juga untukmu," kata Jack, dan bertanya-tanya bagaimana orang itu tahu namanya.

“Well, Jack, and where are you off to?” said the man.

"Nah, Jack, kau hendak ke mana?" kata lelaki itu.

“I'm going to market to sell our cow here.”

"Aku hendak ke pasar untuk menjual sapi kami ini."

“Oh, you look the proper sort of chap to sell cows,” said the man; “I wonder if you know how many beans make five.”

"Oh, kau tampak seperti orang yang tepat untuk menjual sapi," kata lelaki itu; "aku ingin tahu apakah kau tahu berapa banyak biji buncis yang membentuk lima."

“Two in each hand and one in your mouth,” says Jack, as sharp as a needle.

"Dua di setiap tangan dan satu di mulutmu," kata Jack, secepat kilat.

“Right you are,” said the man, “and here they are the very beans themselves,” he went on pulling out of his pocket a number of strange-looking beans. “As you are so sharp,” says he, “I don't mind doing a swop with you—your cow for these beans.”

"Benar sekali," kata lelaki itu, "dan inilah biji-biji buncis itu sendiri," lanjutnya sambil mengeluarkan dari sakunya sejumlah biji buncis berpenampilan aneh. "Karena kau begitu cerdas," katanya, "aku tak keberatan melakukan tukar-menukar denganmu—sapimu untuk biji-biji buncis ini."

“Walker!” says Jack; “wouldn't you like it?”

"Yang benar saja!" kata Jack; "apa kau kira aku mau?"

“Ah! you don't know what these beans are,” said the man; “if you plant them over-night, by morning they grow right up to the sky.”

"Ah! kau tak tahu apa biji-biji buncis ini," kata lelaki itu; "jika kau menanamnya semalaman, keesokan paginya mereka akan tumbuh setinggi langit."

“Really?” says Jack; “you don't say so.”

"Sungguh?" kata Jack; "yang benar saja."

“Yes, that is so, and if it doesn't turn out to be true you can have your cow back.”

"Ya, itu benar, dan jika ternyata itu tak benar kau bisa mendapatkan sapimu kembali."

“Right,” says Jack, and hands him over Milky-white's halter and pockets the beans.

"Baiklah," kata Jack, dan menyerahkan tali kekang Milky-white kepadanya lalu mengantongi biji-biji buncis itu.

Back goes Jack home, and as he hadn't gone very far it wasn't dusk by the time he got to his door.

Jack pun kembali pulang, dan karena ia belum berjalan terlalu jauh hari belum gelap ketika ia sampai di depan pintunya.

“What back, Jack?” said his mother; “I see you haven't got Milky-white, so you've sold her. How much did you get for her?”

"Kembali sudah, Jack?" kata ibunya; "aku lihat kau tak membawa Milky-white, jadi kau sudah menjualnya. Berapa kau dapat untuknya?"

“You'll never guess, mother,” says Jack.

"Ibu tak akan pernah bisa menebaknya," kata Jack.

“No, you don't say so. Good boy! Five pounds, ten, fifteen, no, it can't be twenty.”

"Tidak, yang benar saja. Anak baik! Lima pound, sepuluh, lima belas, tidak, tak mungkin dua puluh."

“I told you you couldn't guess, what do you say to these beans; they're magical, plant them over-night and——”

"Sudah kubilang Ibu tak akan bisa menebaknya, bagaimana kalau biji-biji buncis ini; mereka ajaib, tanamlah semalaman dan——"

“What!” says Jack's mother, “have you been such a fool, such a dolt, such an idiot, as to give away my Milky-white, the best milker in the parish, and prime beef to boot, for a set of paltry beans. Take that! Take that! Take that! And as for your precious beans here they go out of the window. And now off with you to bed. Not a sup shall you drink, and not a bit shall you swallow this very night.”

"Apa!" kata ibu Jack, "apakah kau sebodoh itu, sedungu itu, seidiot itu, sampai menyerahkan Milky-white-ku, penghasil susu terbaik di paroki ini, dan daging sapi terbaik pula, demi seonggok biji buncis tak berharga. Rasakan ini! Rasakan ini! Rasakan ini! Dan soal biji-biji buncis berhargamu ini, sana keluar lewat jendela. Dan sekarang naiklah tidur. Tak setetes pun kau boleh minum, dan tak sesuap pun kau boleh telan malam ini."

So Jack went upstairs to his little room in the attic, and sad and sorry he was, to be sure, as much for his mother's sake, as for the loss of his supper.

Maka Jack naik ke kamar kecilnya di loteng, dan sungguh sedih dan menyesal ia, baik demi ibunya maupun karena kehilangan makan malamnya.

At last he dropped off to sleep.

Akhirnya ia pun tertidur.

When he woke up, the room looked so funny. The sun was shining into part of it, and yet all the rest was quite dark and shady. So Jack jumped up and dressed himself and went to the window. And what do you think he saw? why, the beans his mother had thrown out of the window into the garden, had sprung up into a big beanstalk which went up and up and up till it reached the sky. So the man spoke truth after all.

Ketika ia bangun, kamar itu tampak begitu aneh. Matahari bersinar ke sebagian ruangan itu, namun sisanya sama sekali gelap dan berbayang. Maka Jack melompat bangun dan berpakaian lalu pergi ke jendela. Dan coba tebak apa yang ia lihat? Ternyata, biji-biji buncis yang dilempar ibunya keluar jendela ke dalam kebun, telah tumbuh menjadi sebatang pohon buncis besar yang menjulang naik dan naik dan naik sampai mencapai langit. Jadi lelaki itu memang berkata benar.

The beanstalk grew up quite close past Jack's window, so all he had to do was to open it and give a jump on to the beanstalk which was made like a big plaited ladder. So Jack climbed and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed till at last he reached the sky. And when he got there he found a long broad road going as straight as a dart. So he walked along and he walked along and he walked along till he came to a great big tall house, and on the doorstep there was a great big tall woman.

Pohon buncis itu tumbuh sangat dekat melewati jendela Jack, jadi yang perlu ia lakukan hanyalah membukanya dan melompat ke pohon buncis itu yang terbentuk seperti sebuah tangga besar yang dianyam. Maka Jack memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat sampai akhirnya ia mencapai langit. Dan ketika ia sampai di sana ia menemukan sebuah jalan panjang dan lebar yang membentang lurus seperti anak panah. Maka ia berjalan terus dan berjalan terus dan berjalan terus sampai ia tiba di sebuah rumah besar yang sangat tinggi, dan di ambang pintunya berdiri seorang wanita besar yang sangat tinggi.

“Good morning, mum,” says Jack, quite polite-like. “Could you be so kind as to give me some breakfast.” For he hadn't had anything to eat, you know, the night before and was as hungry as a hunter.

"Selamat pagi, Bu," kata Jack, dengan sopan sekali. "Maukah Ibu berbaik hati memberiku sarapan?" Sebab ia belum makan apa pun, kau tahu, semalam sebelumnya dan lapar sekali seperti seorang pemburu.

“It's breakfast you want, is it?” says the great big tall woman, “it's breakfast you'll be if you don't move off from here. My man is an ogre and there's nothing he likes better than boys broiled on toast. You'd better be moving on or he'll soon be coming.”

"Sarapan yang kau mau, ya?" kata wanita besar yang sangat tinggi itu, "kau yang akan jadi sarapan kalau kau tak segera pergi dari sini. Suamiku adalah seorang raksasa dan tak ada yang lebih ia sukai selain anak-anak lelaki yang dipanggang di atas roti panggang. Sebaiknya kau pergi atau ia akan segera datang."

“Oh! please mum, do give me something to eat, mum. I've had nothing to eat since yesterday morning, really and truly, mum,” says Jack. “I may as well be broiled, as die of hunger.”

"Oh! tolong, Bu, berikan aku sesuatu untuk dimakan, Bu. Aku belum makan apa pun sejak kemarin pagi, sungguh benar, Bu," kata Jack. "Lebih baik aku dipanggang, daripada mati kelaparan."

Well, the ogre's wife wasn't such a bad sort, after all. So she took Jack into the kitchen, and gave him a junk of bread and cheese and a jug of milk. But Jack hadn't half finished these when thump! thump! thump! the whole house began to tremble with the noise of someone coming.

Nah, istri sang raksasa ternyata tak seburuk itu, pada akhirnya. Maka ia membawa Jack ke dapur, dan memberinya sepotong roti dan keju serta segelas susu. Tetapi Jack belum selesai setengahnya ketika terdengar bunyi bum! bum! bum! seluruh rumah mulai bergetar dengan suara seseorang yang datang.

“Goodness gracious me! It's my old man,” said the ogre's wife, “what on earth shall I do? Here, come quick and jump in here.” And she bundled Jack into the oven just as the ogre came in.

"Astaga! Itu suamiku," kata istri sang raksasa, "apa yang harus kulakukan? Sini, cepat lompat masuk ke sini." Dan ia menjejalkan Jack ke dalam oven tepat ketika sang raksasa masuk.

He was a big one, to be sure. At his belt he had three calves strung up by the heels, and he unhooked them and threw them down on the table and said: “Here, wife, broil me a couple of these for breakfast. Ah what's this I smell?

Ia memang besar sekali, sungguh. Di ikat pinggangnya ada tiga ekor anak sapi yang digantung terbalik pada kakinya, dan ia melepaskannya lalu melemparkannya ke atas meja dan berkata: "Ini, istriku, panggangkan aku dua ekor dari ini untuk sarapan. Ah apa yang kucium ini?

Fee-fi-fo-fum, I smell the blood of an Englishman, Be he alive, or be he dead I'll have his bones to grind my bread.”

Fee-fi-fo-fum, Kucium darah orang Inggris, Hidup atau mati sekalipun Akan kuambil tulangnya untuk menggiling rotiku."

“Nonsense, dear,” said his wife, “you're dreaming. Or perhaps you smell the scraps of that little boy you liked so much for yesterday's dinner. Here, go you and have a wash and tidy up, and by the time you come back your breakfast'll be ready for you.”

"Omong kosong, sayang," kata istrinya, "kau sedang bermimpi. Atau mungkin kau mencium sisa-sisa anak lelaki kecil yang begitu kau sukai untuk makan malam kemarin. Ini, pergilah dan mandi serta bersih-bersih, dan pada saat kau kembali sarapanmu akan siap untukmu."

So the ogre went off, and Jack was just going to jump out of the oven and run off when the woman told him not. “Wait till he's asleep,” says she; “he always has a snooze after breakfast.”

Maka sang raksasa pun pergi, dan Jack baru saja hendak melompat keluar dari oven dan lari ketika sang wanita melarangnya. "Tunggu sampai ia tertidur," katanya; "ia selalu tidur siang sebentar setelah sarapan."

Well, the ogre had his breakfast, and after that he goes to a big chest and takes out of it a couple of bags of gold and sits down counting them till at last his head began to nod and he began to snore till the whole house shook again.

Nah, sang raksasa sarapan, dan setelah itu ia pergi ke sebuah peti besar dan mengeluarkan dua kantong emas darinya lalu duduk menghitungnya sampai akhirnya kepalanya mulai mengangguk dan ia mulai mendengkur sampai seluruh rumah bergetar lagi.

Then Jack crept out on tiptoe from his oven, and as he was passing the ogre he took one of the bags of gold under his arm, and off he pelters till he came to the beanstalk, and then he threw down the bag of gold which of course fell in to his mother's garden, and then he climbed down and climbed down till at last he got home and told his mother and showed her the gold and said: “Well, mother, wasn't I right about the beans. They are really magical, you see.”

Kemudian Jack merangkak keluar berjinjit dari ovennya, dan ketika ia melewati sang raksasa ia mengambil satu kantong emas di bawah lengannya, lalu berlari kencang sampai ia tiba di pohon buncis itu, dan kemudian ia melemparkan kantong emas itu ke bawah yang tentu saja jatuh ke kebun ibunya, dan kemudian ia turun memanjat dan turun memanjat sampai akhirnya ia sampai di rumah dan memberitahu ibunya serta menunjukkan emas itu padanya dan berkata: "Nah, Ibu, bukankah aku benar soal biji-biji buncis itu. Mereka memang benar-benar ajaib, kau lihat sendiri."

So they lived on the bag of gold for some time, but at last they came to the end of that so Jack made up his mind to try his luck once more up at the top of the beanstalk. So one fine morning he got up early, and got on to the beanstalk, and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed till at last he got on the road again and came to the great big tall house he had been to before. There, sure enough, was the great big tall woman a-standing on the door-step.

Maka mereka pun hidup dari kantong emas itu untuk sementara waktu, tetapi akhirnya emas itu habis juga sehingga Jack bertekad untuk mencoba peruntungannya sekali lagi di puncak pohon buncis itu. Maka pada suatu pagi yang cerah ia bangun pagi-pagi, dan naik ke pohon buncis itu, dan ia memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat sampai akhirnya ia sampai lagi di jalan itu dan tiba di rumah besar yang sangat tinggi yang pernah ia datangi sebelumnya. Di sana, sungguh benar, ada wanita besar yang sangat tinggi itu berdiri di ambang pintu.

“Good morning, mum,” says Jack, as bold as brass, “could you be so good as to give me something to eat?”

"Selamat pagi, Bu," kata Jack, dengan berani, "maukah Ibu berbaik hati memberiku sesuatu untuk dimakan?"

“Go away, my boy,” said the big, tall woman, “or else my man will eat you up for breakfast. But aren't you the youngster who came here once before? Do you know, that very day, my man missed one of his bags of gold.”

"Pergilah, Nak," kata wanita besar yang tinggi itu, "atau suamiku akan memakanmu untuk sarapan. Tapi bukankah kau anak muda yang pernah datang ke sini sebelumnya? Tahukah kau, pada hari itu juga, suamiku kehilangan satu kantong emasnya."

“That's strange, mum,” says Jack, “I dare say I could tell you something about that but I'm so hungry I can't speak till I've had something to eat.”

"Aneh sekali itu, Bu," kata Jack, "aku berani bilang aku bisa cerita sesuatu soal itu tapi aku begitu lapar sampai tak bisa bicara sebelum makan sesuatu."

Well the big tall woman was that curious that she took him in and gave him something to eat. But he had scarcely begun munching it as slowly as he could when thump! thump! thump! they heard the giant's footstep, and his wife hid Jack away in the oven.

Nah, wanita besar dan tinggi itu begitu penasaran sehingga ia membawanya masuk dan memberinya sesuatu untuk dimakan. Tetapi ia baru saja mulai mengunyahnya perlahan-lahan ketika bum! bum! bum! mereka mendengar langkah kaki sang raksasa, dan istrinya menyembunyikan Jack di dalam oven.

All happened as it did before. In came the ogre as he did before, said: “Fee-fi-fo-fum,” and had his breakfast off three broiled oxen. Then he said: “Wife, bring me the hen that lays the golden eggs.” So she brought it, and the ogre said: “Lay,” and it laid an egg all of gold. And then the ogre began to nod his head, and to snore till the house shook.

Semuanya terjadi seperti sebelumnya. Masuklah sang raksasa seperti sebelumnya, berkata: "Fee-fi-fo-fum," dan sarapan dengan tiga ekor sapi panggang. Kemudian ia berkata: "Istriku, bawakan aku ayam betina yang bertelur emas." Maka ia membawanya, dan sang raksasa berkata: "Bertelur," dan ayam itu bertelur sebutir telur emas. Dan kemudian sang raksasa mulai mengangguk-anggukkan kepalanya, dan mendengkur sampai rumah itu bergetar.

Then Jack crept out of the oven on tiptoe and caught hold of the golden hen, and was off before you could say “Jack Robinson.” But this time the hen gave a cackle which woke the ogre, and just as Jack got out of the house he heard him calling: “Wife, wife, what have you done with my golden hen?”

Kemudian Jack merangkak keluar dari oven berjinjit dan menangkap ayam emas itu, dan berlari secepat kilat. Tetapi kali ini ayam itu berkotek yang membangunkan sang raksasa, dan tepat ketika Jack keluar dari rumah ia mendengarnya memanggil: "Istriku, istriku, apa yang kau lakukan pada ayam emasku?"

And the wife said: “Why, my dear?”

Dan sang istri berkata: "Kenapa, sayangku?"

But that was all Jack heard, for he rushed off to the beanstalk and climbed down like a house on fire. And when he got home he showed his mother the wonderful hen and said “Lay,” to it; and it laid a golden egg every time he said “Lay.”

Tetapi itulah semua yang Jack dengar, sebab ia berlari kencang menuju pohon buncis itu dan turun memanjat secepat kilat. Dan ketika ia sampai di rumah ia menunjukkan ayam ajaib itu kepada ibunya dan berkata "Bertelur," kepadanya; dan ayam itu bertelur sebutir telur emas setiap kali ia berkata "Bertelur."

Well, Jack was not content, and it wasn't very long before he determined to have another try at his luck up there at the top of the beanstalk. So one fine morning, he got up early, and went on to the beanstalk, and he climbed and he climbed and he climbed and he climbed till he got to the top.

Nah, Jack tidak puas, dan tak lama kemudian ia bertekad untuk mencoba peruntungannya sekali lagi di puncak pohon buncis itu. Maka pada suatu pagi yang cerah, ia bangun pagi-pagi, dan naik ke pohon buncis itu, dan ia memanjat dan memanjat dan memanjat dan memanjat sampai ia sampai di puncak.

But this time he knew better than to go straight to the ogre's house. And when he got near it he waited behind a bush till he saw the ogre's wife come out with a pail to get some water, and then he crept into the house and got into the copper. He hadn't been there long when he heard thump! thump! thump! as before, and in come the ogre and his wife.

Tetapi kali ini ia sudah cukup pintar untuk tak langsung pergi ke rumah sang raksasa. Dan ketika ia sudah dekat ia menunggu di balik semak sampai ia melihat istri sang raksasa keluar dengan sebuah ember untuk mengambil air, dan kemudian ia merayap masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam periuk tembaga besar. Belum lama ia di sana ketika ia mendengar bum! bum! bum! seperti sebelumnya, dan masuklah sang raksasa beserta istrinya.

“Fee-fi-fo-fum, I smell the blood of an Englishman,” cried out the ogre; “I smell him, wife, I smell him.”

"Fee-fi-fo-fum, kucium darah orang Inggris," seru sang raksasa; "aku menciumnya, istriku, aku menciumnya."

“Do you, my dearie?” says the ogre's wife. “Then if it's that little rogue that stole your gold and the hen that laid the golden eggs he's sure to have got into the oven.” And they both rushed to the oven. But Jack wasn't there, luckily, and the ogre's wife said: “There you are again with your fee-fi-fo-fum. Why of course it's the laddie you caught last night that I've broiled for your breakfast. How forgetful I am, and how careless you are not to tell the difference between a live un and a dead un.”

"Benarkah, sayangku?" kata istri sang raksasa. "Kalau begitu jika itu bajingan kecil yang mencuri emasmu dan ayam yang bertelur emas itu ia pasti masuk ke dalam oven." Dan mereka berdua bergegas menuju oven. Tetapi Jack tak ada di sana, untungnya, dan istri sang raksasa berkata: "Nah itu lagi dengan fee-fi-fo-fum-mu. Tentu saja itu anak muda yang kau tangkap semalam yang sudah kupanggang untuk sarapanmu. Betapa pelupanya aku, dan betapa cerobohnya kau tak bisa membedakan yang hidup dan yang mati."

So the ogre sat down to the breakfast and ate it, but every now and then he would mutter: “Well, I could have sworn——” and he'd get up and search the larder and the cupboards, and everything, only luckily he didn't think of the copper.

Maka sang raksasa pun duduk untuk sarapan dan memakannya, tetapi sesekali ia bergumam: "Padahal aku yakin sekali——" dan ia bangkit lalu memeriksa lemari makanan dan lemari-lemari lainnya, serta segalanya, hanya untungnya ia tak terpikir untuk memeriksa periuk tembaga itu.

After breakfast was over, the ogre called out: “Wife, wife, bring me my golden harp.” So she brought it and put it on the table before him. Then he said: “Sing!” and the golden harp sang most beautifully. And it went on singing till the ogre fell asleep, and commenced to snore like thunder.

Setelah sarapan selesai, sang raksasa berseru: "Istriku, istriku, bawakan aku harpa emasku." Maka ia membawanya dan meletakkannya di meja di hadapannya. Kemudian ia berkata: "Bernyanyilah!" dan harpa emas itu bernyanyi dengan sangat indah. Dan ia terus bernyanyi sampai sang raksasa tertidur, dan mulai mendengkur seperti guntur.

Then Jack lifted up the copper-lid very quietly and got down like a mouse and crept on hands and knees till he got to the table when he got up and caught hold of the golden harp and dashed with it towards the door. But the harp called out quite loud: “Master! Master!” and the ogre woke up just in time to see Jack running off with his harp.

Kemudian Jack mengangkat tutup periuk tembaga itu dengan sangat pelan dan turun seperti seekor tikus lalu merayap dengan tangan dan lutut sampai ia sampai di meja itu ketika ia bangkit dan menangkap harpa emas itu lalu berlari cepat menuju pintu. Tetapi harpa itu berseru cukup keras: "Tuan! Tuan!" dan sang raksasa terbangun tepat pada waktunya untuk melihat Jack berlari membawa harpanya.

Jack ran as fast as he could, and the ogre came rushing after, and would soon have caught him only Jack had a start and dodged him a bit and knew where he was going. When he got to the beanstalk the ogre was not more than twenty yards away when suddenly he saw Jack disappear like, and when he got up to the end of the road he saw Jack underneath climbing down for dear life. Well, the ogre didn't like trusting himself to such a ladder, and he stood and waited, so Jack got another start.

Jack berlari secepat mungkin, dan sang raksasa bergegas mengejar, dan hampir saja menangkapnya kalau saja Jack tak memiliki keunggulan langkah awal dan menghindarinya sedikit serta tahu ke mana ia harus pergi. Ketika ia sampai di pohon buncis itu sang raksasa tak lebih dari dua puluh yard jauhnya ketika tiba-tiba ia melihat Jack seolah menghilang, dan ketika ia sampai di ujung jalan itu ia melihat Jack di bawah sedang memanjat turun sekuat tenaga. Nah, sang raksasa tak suka mempertaruhkan dirinya pada tangga semacam itu, jadi ia berdiri dan menunggu, sehingga Jack mendapat keunggulan langkah lagi.

But just then the harp cried out: “Master! master!” and the ogre swung himself down on to the beanstalk which shook with his weight. Down climbs Jack, and after him climbed the ogre. By this time Jack had climbed down and climbed down and climbed down till he was very nearly home. So he called out: “Mother! mother! bring me an axe, bring me an axe.” And his mother came rushing out with the axe in her hand, but when she came to the beanstalk she stood stock still with fright for there she saw the ogre just coming down below the clouds.

Tetapi tepat saat itu harpa itu berseru: "Tuan! Tuan!" dan sang raksasa pun mengayunkan dirinya turun ke pohon buncis itu yang bergoyang karena beratnya. Turun memanjat Jack, dan di belakangnya turun memanjat sang raksasa. Pada saat ini Jack telah turun memanjat dan turun memanjat dan turun memanjat sampai ia hampir sampai di rumah. Maka ia berseru: "Ibu! Ibu! bawakan aku kapak, bawakan aku kapak." Dan ibunya berlari keluar dengan kapak di tangannya, tetapi ketika ia sampai di pohon buncis itu ia berdiri diam kaku ketakutan sebab di sana ia melihat sang raksasa sedang turun tepat di bawah awan.

But Jack jumped down and got hold of the axe and gave a chop at the beanstalk which cut it half in two. The ogre felt the beanstalk shake and quiver so he stopped to see what was the matter. Then Jack gave another chop with the axe, and the beanstalk was cut in two and began to topple over. Then the ogre fell down and broke his crown, and the beanstalk came toppling after.

Tetapi Jack melompat turun dan meraih kapak itu lalu menebas sekali ke pohon buncis itu yang memotongnya setengah putus. Sang raksasa merasakan pohon buncis itu bergoyang dan bergetar sehingga ia berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Kemudian Jack menebas sekali lagi dengan kapak itu, dan pohon buncis itu terpotong dua dan mulai roboh. Kemudian sang raksasa terjatuh dan memecahkan tengkoraknya, dan pohon buncis itu ikut roboh menimpanya.

Then Jack showed his mother his golden harp, and what with showing that and selling the golden eggs, Jack and his mother became very rich, and he married a great princess, and they lived happy ever after.

Kemudian Jack menunjukkan harpa emasnya kepada ibunya, dan dengan menunjukkan itu serta menjual telur-telur emas, Jack dan ibunya menjadi sangat kaya, dan ia menikahi seorang putri agung, dan mereka hidup bahagia selamanya.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play