The Mislabeled Boxes
Cerita bahasa Inggris gratis level B1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
After a rushed weekend of packing, Miriam and Julian discover their moving boxes are mislabeled and spend the evening sorting out the mixup.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Miriam and Julian had spent the whole weekend packing their apartment. By Sunday night, forty boxes stood in neat rows by the door. Each one was marked with a black marker: kitchen, bedroom, office, bathroom.
Miriam dan Julian menghabiskan seluruh akhir pekan untuk mengemasi apartemen mereka. Pada Minggu malam, empat puluh kardus berdiri dalam barisan rapi di dekat pintu. Masing-masing ditandai dengan spidol hitam: dapur, kamar tidur, kantor, kamar mandi.
The movers arrived early Monday morning, and everything went smoothly, or so it seemed. Boxes were carried out quickly. Within two hours, the truck was loaded and on its way to the new house.
Para tukang angkut tiba pagi-pagi pada hari Senin, dan semuanya berjalan lancar, atau setidaknya tampak begitu. Kardus-kardus diangkut dengan cepat. Dalam dua jam, truk sudah terisi penuh dan melaju ke rumah baru.
That evening, tired but hopeful, Miriam opened the box labeled "kitchen" first. Instead of plates and pans, she found a tangle of phone chargers. There was also an old alarm clock and a drawer full of pens. "Julian," she called, "this isn't the kitchen box."
Sore itu, lelah tetapi penuh harap, Miriam membuka kardus berlabel "dapur" lebih dulu. Alih-alih piring dan panci, ia menemukan segumpal kabel pengisi daya ponsel. Ada juga jam weker tua dan sebuah laci penuh pulpen. "Julian," panggilnya, "ini bukan kardus dapur."
Julian came over, confused. He opened the box marked "office" and found towels and a shower curtain inside. "This is the bathroom stuff," he said, frowning. "I think we mixed up the labels while we were packing."
Julian datang dengan bingung. Ia membuka kardus bertanda "kantor" dan menemukan handuk-handuk serta tirai kamar mandi di dalamnya. "Ini barang kamar mandi," katanya sambil mengerutkan dahi. "Sepertinya kita salah menempel label waktu mengemas."
They opened three more boxes, and the pattern continued. The labels didn't match the contents at all. Someone, in the rush of the weekend, had clearly written the wrong word on several boxes.
Mereka membuka tiga kardus lagi, dan polanya sama. Label-labelnya sama sekali tidak cocok dengan isinya. Seseorang, dalam keributan akhir pekan itu, jelas telah menulis kata yang salah pada beberapa kardus.
"Okay, we need a system," Miriam said, pulling out a notepad. "Let's open every box, check what's inside, and relabel it properly."
"Oke, kita perlu sistem," kata Miriam sambil mengeluarkan buku catatan. "Mari kita buka setiap kardus, periksa isinya, dan beri label ulang dengan benar."
It took them nearly two hours. Julian opened each box and called out the contents. Miriam crossed out the old label and wrote a new one that actually matched. Some boxes held a strange mix of items from two or three rooms at once.
Itu memakan waktu hampir dua jam. Julian membuka tiap kardus dan menyebutkan isinya. Miriam mencoret label lama dan menulis label baru yang benar-benar cocok. Beberapa kardus berisi campuran barang yang aneh dari dua atau tiga ruangan sekaligus.
"How did we even manage this?" Julian asked, laughing as he found a single shoe inside a box labeled "books."
"Bagaimana bisa kita sampai begini?" tanya Julian sambil tertawa saat menemukan sebelah sepatu di dalam kardus berlabel "buku".
"We were exhausted and packing at midnight," Miriam reminded him. "I'm honestly impressed we labeled anything correctly."
"Kita kelelahan dan mengemas tengah malam," Miriam mengingatkannya. "Jujur saja, aku kagum kita masih memberi label dengan benar pada sebagian."
By the time they finished, every box had a new, accurate label. A rough map of the new house was taped to the fridge. It showed which room each box belonged in.
Ketika mereka selesai, setiap kardus punya label baru yang akurat. Sebuah denah kasar rumah baru ditempel di kulkas. Denah itu menunjukkan kardus mana masuk ke ruangan mana.
"There," Miriam said, taping the last label shut. "Now let's actually unpack the kitchen box that has real dishes in it."
"Nah," kata Miriam sambil menempelkan label terakhir. "Sekarang mari kita benar-benar membongkar kardus dapur yang isinya piring sungguhan."






