Sampul The Film in the Secondhand Camera

The camera costs less than a sandwich. Aino buys it from a flea-market stall, where the seller shrugs and says he has no idea where it came from. It is heavy and scratched, but the winding lever still clicks.

Kamera itu harganya lebih murah daripada sebuah sandwich. Aino membelinya dari sebuah lapak pasar loak, tempat si penjual mengangkat bahu dan berkata ia tidak tahu dari mana kamera itu berasal. Kamera itu berat dan penuh goresan, tetapi tuas penggulungnya masih berbunyi klik.

At home, she opens the back to check the mechanism and finds a roll of film inside. The counter shows that thirty-one pictures have already been taken.

Di rumah, ia membuka bagian belakangnya untuk memeriksa mekanismenya dan menemukan segulung film di dalamnya. Penghitung menunjukkan bahwa tiga puluh satu foto sudah diambil.

"After twenty years, most of it will probably be blank," the technician at the photo lab warns her. "But sometimes film surprises you."

"Setelah dua puluh tahun, sebagian besar kemungkinan kosong," kata teknisi di studio cuci foto memperingatkannya. "Tapi kadang-kadang film bisa memberi kejutan."

Three days later, thirty-one prints lie across her kitchen table. They show a road trip that belongs to a stranger. A small blue car with a dented door. Two women laughing on a picnic blanket beside a lake. A dog asleep on a suitcase. A roadside kiosk with a handwritten sign advertising cherries.

Tiga hari kemudian, tiga puluh satu cetakan foto terhampar di meja dapurnya. Foto-foto itu menunjukkan sebuah perjalanan darat milik orang asing. Sebuah mobil biru kecil dengan pintu penyok. Dua perempuan tertawa di atas tikar piknik di tepi danau. Seekor anjing tertidur di atas koper. Sebuah kios pinggir jalan dengan papan tulisan tangan yang menawarkan ceri.

Aino cannot stop looking at them. Somebody must have been waiting for these pictures, she thinks, or at least wondering what had become of them. If the film had been lost for good, that person would never have known.

Aino tidak bisa berhenti memandanginya. Pasti ada seseorang yang menunggu foto-foto ini, pikirnya, atau setidaknya bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Kalau film itu hilang selamanya, orang itu tidak akan pernah tahu.

The twenty-sixth photograph is the only one with a clue. It shows a narrow street, and behind a parked bicycle, a shop sign reads "Two Bridges Pharmacy." A map search turns up exactly one pharmacy with that name, in the lakeside town of Orrin Water.

Foto kedua puluh enam adalah satu-satunya yang memberi petunjuk. Foto itu memperlihatkan sebuah jalan sempit, dan di belakang sebuah sepeda yang diparkir, sebuah papan toko bertuliskan "Apotek Dua Jembatan". Pencarian di peta hanya menemukan satu apotek dengan nama itu, di kota tepi danau bernama Orrin Water.

She takes the train on Saturday. The young pharmacist studies the print for a long moment. "That's our old awning," he says. "We replaced it years ago. But try the bakery across the road. The woman there remembers everything that happened before the new bridge."

Ia naik kereta pada hari Sabtu. Apoteker muda itu mengamati foto tersebut lama sekali. "Itu kanopi lama kami," katanya. "Sudah kami ganti bertahun-tahun lalu. Tapi coba tanya di toko roti seberang jalan. Ibu di sana ingat semua yang terjadi sebelum jembatan baru dibangun."

The woman behind the bakery counter is white-haired and sharp-eyed. Her name is Hester, and she has barely glanced at the photograph before she laughs out loud.

Perempuan di balik konter toko roti itu berambut putih dan bermata tajam. Namanya Hester, dan ia baru sekilas melihat foto itu ketika tawanya pecah.

"That's my sister's car," she says. "I took every one of these, so I'm not in a single picture."

"Itu mobil kakakku," katanya. "Aku yang mengambil semua foto ini, jadi aku tidak ada di satu pun foto."

Hester explains that she lost the camera at a station the autumn after the trip. She had always assumed the film had ended up in the trash. For twenty years, she has been telling her grandchildren about the day her sister ate a whole cherry pie in the car. "They never believed me," she says, tapping the print of the kiosk. "Now I have evidence."

Hester menjelaskan bahwa ia kehilangan kamera itu di sebuah stasiun pada musim gugur setelah perjalanan itu. Ia selalu mengira filmnya berakhir di tempat sampah. Selama dua puluh tahun, ia terus bercerita kepada cucu-cucunya tentang hari ketika kakaknya menghabiskan satu pai ceri utuh di dalam mobil. "Mereka tidak pernah percaya," katanya sambil mengetuk foto kios itu. "Sekarang aku punya bukti."

Aino hands over the whole stack. When she offers the camera as well, Hester pushes it gently back across the counter.

Aino menyerahkan seluruh tumpukan foto itu. Ketika ia menawarkan kameranya juga, Hester mendorongnya pelan kembali ke seberang konter.

"Keep it," she says. "It is better in hands that are curious."

"Simpan saja," katanya. "Kamera ini lebih pantas berada di tangan yang penuh rasa ingin tahu."

On the train home, Aino buys a new roll from the station kiosk and loads it. She points the camera at the window, where the lake is sliding past, and winds the lever forward until it clicks.

Dalam perjalanan pulang dengan kereta, Aino membeli sebuah gulungan film baru dari kios stasiun dan memasangnya. Ia mengarahkan kamera ke jendela, tempat danau meluncur lewat, lalu memutar tuasnya maju sampai berbunyi klik.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. What does Aino find when she opens the camera?

    Lihat jawaban

    Jawaban: A roll of film that has already been used.

    The counter shows that thirty-one pictures have already been taken.

  2. Which clue in one photograph helps her find the photographer?

    Lihat jawaban

    Jawaban: The sign of a pharmacy.

    A shop sign reading "Two Bridges Pharmacy" leads her to the town of Orrin Water.

  3. What does Hester do when Aino offers the camera back?

    Lihat jawaban

    Jawaban: She tells Aino to keep it.

    Hester says the camera is better in hands that are curious.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play