Master of All Masters
A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A new servant must learn a whole household of ridiculous private names for everyday things, then remember them all in an emergency.
A girl once went to the fair to hire herself for servant. At last a funny-looking old gentleman engaged her, and took her home to his house. When she got there, he told her that he had something to teach her, for that in his house he had his own names for things.
Suatu ketika seorang gadis pergi ke pasar malam untuk mencari pekerjaan sebagai pembantu. Akhirnya seorang tuan tua yang berpenampilan lucu mempekerjakannya, dan membawanya pulang ke rumahnya. Setibanya di sana, ia memberitahunya bahwa ada sesuatu yang harus ia ajarkan kepadanya, sebab di rumahnya ia memiliki sebutan sendiri untuk segala benda.
He said to her: “What will you call me?”
Ia berkata kepadanya, "Apa yang akan kau panggil untukku?"
“Master or mister, or whatever you please sir,” says she.
"Tuan atau Bapak, atau apa pun yang Bapak suka," jawabnya.
He said: “You must call me 'master of all masters.' And what would you call this?” pointing to his bed.
Ia berkata, "Kau harus memanggilku 'tuan dari segala tuan.' Dan apa yang akan kau sebut ini?" sambil menunjuk ranjangnya.
“Bed or couch, or whatever you please, sir.”
"Ranjang atau dipan, atau apa pun yang Bapak suka."
“No, that's my 'barnacle.' And what do you call these?” said he pointing to his pantaloons.
"Bukan, itu 'peraduan kerang'-ku. Dan apa yang kau sebut ini?" katanya sambil menunjuk celana panjangnya.
“Breeches or trousers, or whatever you please, sir.”
"Celana pendek atau celana panjang, atau apa pun yang Bapak suka."
“You must call them 'squibs and crackers.' And what would you call her?” pointing to the cat.
"Kau harus menyebutnya 'letusan dan petasan.' Dan apa yang akan kau sebut dia?" sambil menunjuk kucingnya.
“Cat or kit, or whatever you please, sir.”
"Kucing atau anak kucing, atau apa pun yang Bapak suka."
“You must call her 'white-faced simminy.' And this now,” showing the fire, “what would you call this?”
"Kau harus memanggilnya 'simini muka putih.' Dan yang ini sekarang," sambil menunjukkan api, "apa yang akan kau sebut ini?"
“Fire or flame, or whatever you please, sir.”
"Api atau nyala, atau apa pun yang Bapak suka."
“You must call it 'hot cockalorum,' and what this?” he went on, pointing to the water.
"Kau harus menyebutnya 'kokalorum panas,' dan yang ini?" lanjutnya, sambil menunjuk air.
“Water or wet, or whatever you please, sir.”
"Air atau yang basah, atau apa pun yang Bapak suka."
“No, 'pondalorum' is its name. And what do you call all this?” asked he, as he pointed to the house.
"Bukan, 'pondalorum' namanya. Dan apa yang kau sebut semua ini?" tanyanya, sambil menunjuk rumah itu.
“House or cottage, or whatever you please, sir.”
"Rumah atau gubuk, atau apa pun yang Bapak suka."
“You must call it 'high topper mountain.'”
"Kau harus menyebutnya 'gunung topi tinggi.'"
That very night the servant woke her master up in a fright and said: “Master of all masters, get out of your barnacle and put on your squibs and crackers. For white-faced simminy has got a spark of hot cockalorum on its tail, and unless you get some pondalorum high topper mountain will be all on hot cockalorum.” … That's all.
Malam itu juga, sang pembantu membangunkan majikannya dengan panik dan berkata, "Tuan dari segala tuan, bangunlah dari peraduan kerangmu dan kenakan letusan dan petasanmu. Sebab simini muka putih telah terkena percikan kokalorum panas di ekornya, dan kecuali kau mengambil pondalorum, gunung topi tinggi akan seluruhnya terbakar kokalorum panas." … Itu saja.