Gudbrand on the Hill-Side
A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A farmer trades his way down from a cow to almost nothing on the way to market, and his wife is delighted with every single swap.
Once on a time there was a man whose name was Gudbrand; he had a farm which lay far, far away upon a hill-side, and so they called him Gudbrand on the Hill-side.
Pada zaman dahulu ada seorang pria bernama Gudbrand; ia memiliki sebuah peternakan yang terletak jauh, jauh di atas sebuah lereng bukit, sehingga orang-orang memanggilnya Gudbrand di Lereng Bukit.
Now, you must know this man and his goodwife lived so happily together, and understood one another so well, that all the husband did the wife thought so well done there was nothing like it in the world, and she was always glad whatever he turned his hand to. The farm was their own land, and they had a hundred dollars lying at the bottom of their chest, and two cows tethered up in a stall in their farm-yard.
Nah, kau harus tahu, pria ini dan istrinya yang baik hati hidup begitu bahagia bersama, dan begitu saling memahami, sehingga apa pun yang dilakukan sang suami, sang istri menganggapnya begitu baik seakan tak ada yang menandinginya di dunia ini, dan ia selalu senang apa pun yang dikerjakan suaminya. Peternakan itu adalah tanah milik mereka sendiri, dan mereka memiliki seratus dolar tersimpan di dasar peti mereka, serta dua ekor sapi yang diikat di kandang di halaman peternakan mereka.
So one day his wife said to Gudbrand:
Maka pada suatu hari istrinya berkata kepada Gudbrand:
“Do you know, dear, I think we ought to take one of our cows into town, and sell it; that’s what I think; for then we shall have some money in hand, and such well-to-do people as we ought to have ready money like the rest of the world. As for the hundred dollars at the bottom of the chest yonder, we can’t make a hole in them, and I’m sure I don’t know what we want with more than one cow. Besides, we shall gain a little in another way, for then I shall get off with only looking after one cow, instead of having, as now, to feed and litter and water two.”
“Tahukah kau, Sayang, kurasa kita sebaiknya membawa salah satu sapi kita ke kota, dan menjualnya; begitulah pikirku; sebab dengan begitu kita akan punya sedikit uang di tangan, dan orang-orang berkecukupan seperti kita sudah sepantasnya punya uang tunai seperti orang lain di dunia ini. Adapun seratus dolar di dasar peti di sana, kita tak boleh mengusiknya, dan aku sungguh tak tahu untuk apa kita butuh lebih dari satu sapi. Selain itu, kita akan sedikit diuntungkan dengan cara lain, sebab dengan begitu aku hanya perlu mengurus satu sapi saja, alih-alih, seperti sekarang, harus memberi makan, menyediakan alas, dan air untuk dua ekor.”
Well, Gudbrand thought his wife talked right good sense, so he set off at once with the cow on his way to town to sell her; but when he got to the town, there was no one who would buy his cow.
Nah, Gudbrand merasa istrinya bicara dengan sangat masuk akal, jadi ia segera berangkat membawa sapi itu menuju kota untuk menjualnya; tetapi ketika ia tiba di kota, tak ada seorang pun yang mau membeli sapinya.
“Well! well! never mind”, said Gudbrand, “at the worst, I can only go back home again with my cow. I’ve both stable and tether for her, I should think, and the road is no farther out than in”; and with that he began to toddle home with his cow.
“Yah, sudahlah”, kata Gudbrand, “paling buruk, aku tinggal pulang saja bersama sapiku. Aku toh punya kandang dan tali untuknya, kurasa, dan jalan pulang tak lebih jauh dari jalan pergi”; dan dengan itu ia mulai berjalan pulang perlahan bersama sapinya.
But when he had gone a bit of the way, a man met him who had a horse to sell, so Gudbrand thought ’twas better to have a horse than a cow, so he swopped with the man. A little farther on he met a man walking along and driving a fat pig before him, and he thought it better to have a fat pig than a horse, so he swopped with the man.
Tetapi ketika ia sudah berjalan sedikit jauh, seorang pria menemuinya yang memiliki seekor kuda untuk dijual, maka Gudbrand berpikir lebih baik memiliki kuda daripada sapi, jadi ia menukarnya dengan pria itu. Sedikit lebih jauh lagi ia bertemu seorang pria yang berjalan sambil menggiring seekor babi gemuk di depannya, dan ia berpikir lebih baik memiliki babi gemuk itu daripada kuda, jadi ia menukarnya dengan pria itu.
After that he went a little farther, and a man met him with a goat; so he thought it better to have a goat than a pig, and he swopped with the man that owned the goat. Then he went on a good bit till he met a man who had a sheep, and he swopped with him too, for he thought it always better to have a sheep than a goat.
Setelah itu ia berjalan sedikit lebih jauh, dan seorang pria menemuinya dengan seekor kambing; maka ia berpikir lebih baik memiliki kambing daripada babi, dan ia menukarnya dengan pria pemilik kambing itu. Kemudian ia berjalan cukup jauh hingga bertemu seorang pria yang memiliki seekor domba, dan ia menukarnya juga, sebab ia pikir selalu lebih baik memiliki domba daripada kambing.
After a while he met a man with a goose, and he swopped away the sheep for the goose; and when he had walked a long, long time, he met a man with a cock, and he swopped with him, for he thought in this wise, “’Tis surely better to have a cock than a goose.” Then he went on till the day was far spent, and he began to get very hungry, so he sold the cock for a shilling, and bought food with the money, for, thought Gudbrand on the Hill-side, “’Tis always better to save one’s life than to have a cock.”
Setelah beberapa saat ia bertemu seorang pria dengan seekor angsa, dan ia menukarkan dombanya dengan angsa itu; dan setelah berjalan cukup lama, lama sekali, ia bertemu seorang pria dengan seekor ayam jantan, dan ia menukarnya dengan pria itu, sebab ia berpikir begini, “Tentu lebih baik memiliki ayam jantan daripada angsa.” Lalu ia terus berjalan hingga hari sudah menjelang senja, dan ia mulai merasa sangat lapar, maka ia menjual ayam jantan itu seharga satu shilling, dan membeli makanan dengan uang itu, sebab, pikir Gudbrand di Lereng Bukit, “Selalu lebih baik menyelamatkan nyawa sendiri daripada memiliki seekor ayam jantan.”
After that he went on home till he reached his nearest neighbour’s house, where he turned in.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanan pulang hingga tiba di rumah tetangga terdekatnya, tempat ia singgah.
“Well”, said the owner of the house, “how did things go with you in town?”
“Nah”, kata pemilik rumah itu, “bagaimana keadaanmu di kota?”
“Rather so so”, said Gudbrand, “I can’t praise my luck, nor do I blame it either”, and with that he told the whole story from first to last.
“Lumayan saja”, kata Gudbrand, “aku tak bisa memuji nasibku, tapi aku juga tak menyalahkannya”, dan dengan itu ia menceritakan seluruh kisahnya dari awal hingga akhir.
“Ah!” said his friend, “you’ll get nicely called over the coals, that one can see, when you get home to your wife. Heaven help you, I wouldn’t stand in your shoes for something.”
“Ah!” kata temannya, “kau akan dimarahi habis-habisan, itu sudah pasti, begitu kau pulang menemui istrimu. Semoga Tuhan menolongmu, aku tak mau berada di posisimu untuk apa pun juga.”
“Well!” said Gudbrand on the Hill-side, “I think things might have gone much worse with me; but now, whether I have done wrong or not, I have so kind a goodwife, she never has a word to say against anything that I do.”
“Yah!” kata Gudbrand di Lereng Bukit, “kurasa keadaan bisa saja jadi jauh lebih buruk bagiku; tetapi sekarang, entah aku telah berbuat salah atau tidak, aku punya istri yang begitu baik hati, ia tak pernah punya sepatah kata pun untuk menentang apa pun yang kulakukan.”
“Oh!” answered his neighbour, “I hear what you say, but I don’t believe it for all that.”
“Oh!” jawab tetangganya, “aku dengar apa yang kaukatakan, tetapi aku tak percaya itu sama sekali.”
“Shall we lay a bet upon it?” asked Gudbrand on the Hill-side. “I have a hundred dollars at the bottom of my chest at home; will you lay as many against them?”
“Maukah kita bertaruh soal itu?” tanya Gudbrand di Lereng Bukit. “Aku punya seratus dolar di dasar petiku di rumah; maukah kau pasang jumlah yang sama untuk melawannya?”
Yes! the friend was ready to bet; so Gudbrand stayed there till evening, when it began to get dark, and then they went together to his house, and the neighbour was to stand outside the door and listen, while the man went in to see his wife.
Ya! temannya bersedia bertaruh; maka Gudbrand tinggal di sana hingga petang, ketika hari mulai gelap, lalu mereka bersama-sama pergi ke rumahnya, dan sang tetangga akan berdiri di luar pintu dan mendengarkan, sementara pria itu masuk untuk menemui istrinya.
“Good evening!” said Gudbrand on the Hill-side.
“Selamat malam!” kata Gudbrand di Lereng Bukit.
“Good evening!” said the goodwife. “Oh! is that you? now God be praised.”
“Selamat malam!” kata istrinya yang baik hati. “Oh! Itu kau? Syukurlah kepada Tuhan.”
Yes! it was he. So the wife asked how things had gone with him in town?
Ya! itu memang dia. Maka sang istri bertanya bagaimana keadaannya di kota?
“Oh! only so so”, answered Gudbrand; “not much to brag of. When I got to the town there was no one who would buy the cow, so you must know I swopped it away for a horse.”
“Oh! lumayan saja”, jawab Gudbrand; “tak banyak yang bisa dibanggakan. Ketika aku sampai di kota tak ada seorang pun yang mau membeli sapi itu, jadi kau harus tahu aku menukarnya dengan seekor kuda.”
“For a horse”, said his wife; “well that is good of you; thanks with all my heart. We are so well to do that we may drive to church, just as well as other people; and if we choose to keep a horse we have a right to get one, I should think. So run out, child, and put up the horse.”
“Dengan seekor kuda”, kata istrinya; “nah itu baik sekali darimu; terima kasih dengan sepenuh hati. Kita sudah cukup mampu untuk naik kereta ke gereja, sama seperti orang lain; dan jika kita memilih memelihara kuda, kita berhak mendapatkannya, kurasa. Jadi larilah ke luar, Nak, dan tambatkan kuda itu.”
“Ah!” said Gudbrand, “but you see I’ve not got the horse after all; for when I got a bit farther on the road, I swopped it away for a pig.”
“Ah!” kata Gudbrand, “tapi begini, aku tak lagi punya kuda itu; sebab ketika aku berjalan sedikit lebih jauh, aku menukarnya dengan seekor babi.”
“Think of that, now!” said the wife; “you did just as I should have done myself; a thousand thanks! Now I can have a bit of bacon in the house to set before people when they come to see me, that I can. What do we want with a horse? People would only say we had got so proud that we couldn’t walk to church. Go out, child, and put up the pig in the sty.”
“Coba pikirkan itu!” kata istrinya; “kau melakukan persis seperti yang akan kulakukan sendiri; terima kasih banyak-banyak! Sekarang aku bisa punya sedikit daging asap di rumah untuk disajikan bagi orang-orang yang datang menemuiku, sungguh. Untuk apa kita butuh kuda? Orang-orang hanya akan bilang kita jadi terlalu sombong sehingga tak mau berjalan kaki ke gereja. Keluarlah, Nak, dan masukkan babi itu ke kandangnya.”
“But I’ve not got the pig either”, said Gudbrand; “for when I got a little farther on, I swopped it away for a milch goat.”
“Tapi aku juga tak punya babi itu”, kata Gudbrand; “sebab ketika aku berjalan sedikit lebih jauh, aku menukarnya dengan seekor kambing perah.”
“Bless us!” cried his wife, “how well you manage everything! Now I think it over, what should I do with a pig? People would only point at us and say, ‘Yonder they eat up all they have got.’ No! now I have got a goat, and I shall have milk and cheese, and keep the goat too. Run out, child, and put up the goat.”
“Astaga!” seru istrinya, “betapa pandainya kau mengatur segalanya! Sekarang kupikir-pikir, apa yang akan kulakukan dengan seekor babi? Orang-orang hanya akan menunjuk kita dan berkata, ‘Lihat, mereka menghabiskan semua yang mereka punya.’ Tidak! sekarang aku punya seekor kambing, dan aku akan punya susu dan keju, sekaligus memelihara kambing itu. Larilah keluar, Nak, dan masukkan kambing itu.”
“Nay, but I haven’t got the goat either”, said Gudbrand, “for a little farther on I swopped it away, and got a fine sheep instead.”
“Tidak, tapi aku juga tak punya kambing itu”, kata Gudbrand, “sebab sedikit lebih jauh lagi aku menukarnya, dan mendapatkan seekor domba yang bagus sebagai gantinya.”
“You don’t say so!” cried his wife; “why, you do everything to please me, just as if I had been with you; what do we want with a goat? If I had it I should lose half my time in climbing up the hills to get it down. No! if I have a sheep, I shall have both wool and clothing, and fresh meat in the house. Run out, child, and put up the sheep.”
“Masa begitu!” seru istrinya; “wah, kau melakukan segalanya untuk menyenangkan hatiku, persis seperti jika aku ada bersamamu; untuk apa kita butuh kambing? Kalau aku memilikinya aku pasti akan kehilangan separuh waktuku untuk mendaki bukit demi menurunkannya. Tidak! kalau aku punya domba, aku akan punya wol dan pakaian, dan daging segar di rumah. Larilah keluar, Nak, dan masukkan domba itu.”
“But I haven’t got the sheep any more than the rest”, said Gudbrand; “for when I had gone a bit farther, I swopped it away for a goose.”
“Tapi aku juga tak punya domba itu, sama seperti yang lain”, kata Gudbrand; “sebab ketika aku sudah berjalan sedikit lebih jauh, aku menukarnya dengan seekor angsa.”
“Thank you! thank you! with all my heart”, cried his wife; “what should I do with a sheep? I have no spinning-wheel, nor carding-comb, nor should I care to worry myself with cutting, and shaping, and sewing clothes. We can buy clothes now, as we have always done; and now I shall have roast goose, which I have longed for so often; and, besides, down to stuff my little pillow with. Run out, child, and put up the goose.”
“Terima kasih! terima kasih! dengan sepenuh hati”, seru istrinya; “apa yang harus kulakukan dengan seekor domba? Aku tak punya roda pemintal, atau sisir penyerat wol, dan aku juga tak ingin repot memotong, membentuk, dan menjahit pakaian. Kita bisa membeli pakaian sekarang, seperti yang selalu kita lakukan; dan sekarang aku akan punya angsa panggang, yang sudah lama sekali kuidamkan; dan, selain itu, bulu halusnya untuk mengisi bantal kecilku. Larilah keluar, Nak, dan masukkan angsa itu.”
“Ah!” said Gudbrand, “but I haven’t the goose either; for when I had gone a bit farther I swopped it away for a cock.”
“Ah!” kata Gudbrand, “tapi aku juga tak punya angsa itu; sebab ketika aku sudah berjalan sedikit lebih jauh aku menukarnya dengan seekor ayam jantan.”
“Dear me!” cried his wife, “how you think of everything! just as I should have done myself. A cock! think of that! why it’s as good as an eight-day clock, for every morning the cock crows at four o’clock, and we shall be able to stir our stumps in good time. What should we do with a goose? I don’t know how to cook it; and as for my pillow, I can stuff it with cotton-grass. Run out, child, and put up the cock.”
“Astaga!” seru istrinya, “betapa kau memikirkan segalanya! persis seperti yang akan kulakukan sendiri. Seekor ayam jantan! coba pikirkan itu! itu sama baiknya dengan jam yang bertahan delapan hari, sebab setiap pagi ayam jantan itu berkokok pukul empat, dan kita akan bisa bangun dan bergerak tepat waktu. Untuk apa kita butuh angsa? Aku tak tahu cara memasaknya; dan soal bantalku, aku bisa mengisinya dengan kapas rumput. Larilah keluar, Nak, dan masukkan ayam jantan itu.”
“But, after all, I haven’t got the cock”, said Gudbrand; “for when I had gone a bit farther, I got as hungry as a hunter, so I was forced to sell the cock for a shilling, for fear I should starve.”
“Tapi, pada akhirnya, aku juga tak punya ayam jantan itu”, kata Gudbrand; “sebab ketika aku sudah berjalan sedikit lebih jauh, aku menjadi lapar sekali seperti pemburu, jadi aku terpaksa menjual ayam jantan itu seharga satu shilling, karena takut aku akan kelaparan.”
“Now, God be praised that you did so!” cried his wife; “whatever you do, you do it always just after my own heart. What should we do with the cock? We are our own masters, I should think, and can lie a-bed in the morning as long as we like. Heaven be thanked that I have got you safe back again; you who do everything so well that I want neither cock nor goose; neither pigs nor kine.”
“Syukurlah kepada Tuhan kau melakukan itu!” seru istrinya; “apa pun yang kaulakukan, kau selalu melakukannya persis sesuai kehendak hatiku. Untuk apa kita butuh ayam jantan itu? Kita adalah tuan atas diri kita sendiri, kurasa, dan bisa bermalas-malasan di ranjang di pagi hari selama yang kita mau. Syukurlah aku sudah mendapatkanmu kembali dengan selamat; kau yang melakukan segalanya begitu baik sehingga aku tak butuh ayam jantan maupun angsa; tak butuh babi maupun sapi.”
Then Gudbrand opened the door and said; “Well, what do you say now? Have I won the hundred dollars?” and his neighbour was forced to allow that he had.
Lalu Gudbrand membuka pintu dan berkata; “Nah, apa katamu sekarang? Apakah aku memenangkan seratus dolar itu?” dan tetangganya terpaksa mengakui bahwa memang benar demikian.