Sampul The World's Most Competitive Bake Sale

Tabitha's chess club and Yuki's robotics team had both scheduled their fundraising bake sales for the same Friday, at opposite ends of the same hallway. Neither club was willing to reschedule.

Klub catur Tabitha dan tim robotika Yuki sama-sama menjadwalkan bazar kue penggalang dana mereka pada hari Jumat yang sama, di ujung berseberangan lorong yang sama. Tak satu pun klub mau mengubah jadwal.

"We were here first," Tabitha insisted, though nobody could actually confirm which sign-up sheet had been submitted earlier.

"Kami duluan di sini," Tabitha bersikeras, padahal tak ada yang benar-benar bisa memastikan lembar pendaftaran siapa yang dikirim lebih dulu.

"By four minutes, maybe," Yuki said. "That's not exactly a strong claim to the entire hallway."

"Paling cuma selisih empat menit," kata Yuki. "Itu bukan klaim yang kuat untuk menguasai seluruh lorong."

What began as a scheduling disagreement escalated, over the course of one lunch period, into something neither club had planned for. Tabitha's table offered cookies. Yuki's table, in response, offered cookies that were, according to a hastily written sign, "twice the size, for the same price."

Yang bermula sebagai perselisihan jadwal meningkat, dalam satu jam istirahat makan siang, menjadi sesuatu yang tak direncanakan kedua klub. Meja Tabitha menawarkan kue kering. Meja Yuki, sebagai balasan, menawarkan kue kering yang menurut sebuah papan tulisan tergesa-gesa "dua kali lebih besar, dengan harga sama".

Tabitha's team retaliated by lowering prices. Yuki's team added free samples. By the time the sale started after school, both tables had assembled elaborate displays, with handwritten signs comparing calories, prices, and moral character.

Tim Tabitha membalas dengan menurunkan harga. Tim Yuki menambahkan sampel gratis. Saat bazar dimulai sepulang sekolah, kedua meja sudah memasang pajangan yang rumit, dengan papan tulisan tangan yang membandingkan kalori, harga, dan akhlak.

"Robotics Club members," read one sign, "have never once dropped a project deadline." A cookie was taped beneath it, as if offering supporting evidence.

"Anggota Klub Robotika," bunyi salah satu papan, "tak pernah sekali pun melewatkan tenggat proyek." Sebuah kue direkatkan di bawahnya, seolah menawarkan bukti pendukung.

Tabitha responded with a poster reading, "Chess Club has produced three regional champions and zero lawsuits." It was a claim Yuki privately admitted was both true and completely irrelevant.

Tabitha membalas dengan poster bertuliskan, "Klub Catur telah melahirkan tiga juara regional dan nol gugatan hukum." Yuki diam-diam mengakui bahwa klaim itu benar sekaligus sama sekali tak relevan.

Students, sensing free entertainment, gathered between the two tables rather than actually buying anything from either one. That meant that by four o'clock, both clubs had sold almost nothing and made almost no money at all.

Para siswa, mencium hiburan gratis, berkumpul di antara kedua meja alih-alih benar-benar membeli sesuatu dari salah satunya. Akibatnya, pada pukul empat, kedua klub nyaris tak menjual apa-apa dan hampir tak menghasilkan uang sama sekali.

Their advisor arrived to check on the sale. She found two increasingly elaborate displays, a crowd filming the whole thing on their phones, and not a single dollar in either donation jar.

Pembina mereka datang untuk melihat bazar itu. Ia menemukan dua pajangan yang makin rumit, kerumunan yang merekam semuanya dengan ponsel, dan tak ada satu dolar pun di kedua toples donasi.

"This was supposed to raise money," she said, "not start a cold war."

"Ini seharusnya mengumpulkan uang," katanya, "bukan memulai perang dingin."

Tabitha and Yuki looked at each other, both a little embarrassed, and both, privately, slightly impressed by how far the rivalry had escalated.

Tabitha dan Yuki saling memandang, sama-sama agak malu, dan sama-sama diam-diam sedikit kagum pada sejauh apa persaingan itu telah memuncak.

"Truce?" Yuki offered. "Combined table. We split everything fifty-fifty."

"Damai?" tawar Yuki. "Satu meja gabungan. Semuanya kita bagi lima puluh-lima puluh."

"Only if the sign says both clubs," Tabitha said. "Equal font size. I've seen how you do things."

"Hanya kalau papannya menyebut kedua klub," kata Tabitha. "Ukuran huruf sama besar. Aku sudah tahu caramu bekerja."

By the end of the hour, the merged table had outsold both original setups combined. The audience they had already gathered finally had something to actually purchase.

Pada akhir jam itu, meja gabungan menjual lebih banyak daripada gabungan kedua meja semula. Penonton yang sudah mereka kumpulkan akhirnya punya sesuatu yang benar-benar bisa dibeli.

🧠 Cek pemahamanmu

  1. Why does the rivalry between the two bake sale tables begin?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Both clubs scheduled their fundraisers for the same time and place

    Chess club and robotics team scheduled their bake sales for the same Friday at opposite ends of the same hallway.

  2. What happens to actual sales while the rivalry escalates?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Students gather to watch but barely buy anything

    Students gather to watch the spectacle rather than buy anything, so both clubs sell almost nothing.

  3. How does the story resolve?

    Lihat jawaban

    Jawaban: Tabitha and Yuki merge their tables and split everything

    Yuki offers a truce with a combined table, and the merged table ends up outselling both original setups.

Suka ceritanya? Dengarkan versi lengkap dan cari arti kata apa pun di aplikasi

  • Ketuk kata apa pun untuk melihat artinya
  • Dengarkan setiap cerita sampai habis dan baca offline
  • Ulangi kosakata, latih pelafalan, dan kerjakan kuis
Temukan di Google Play