Storyteller

The Glass City

A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B2
Genres
science-fiction, literary
Reading time
2 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Glass City cover

In a city where every window broadcasts its owner's feelings, one archivist stops hiding hers.

In the city of Aereth, every window was made of memory-glass, and the law was simple: a citizen's walls displayed, to any passer-by, whatever that citizen had most recently felt. Grief clouded the panes grey; joy set them ablaze. Privacy had been abolished a generation ago, in the name of a perfect and transparent society.

Di kota Aereth, setiap jendela terbuat dari kaca-ingatan, dan hukumnya sederhana: dinding seorang warga akan menampilkan, kepada siapa pun yang lewat, apa pun yang baru saja dirasakan oleh warga itu. Kesedihan membuat kaca berkabut kelabu; kegembiraan membuatnya berpijar terang. Privasi telah dihapuskan sejak satu generasi lalu, atas nama sebuah masyarakat yang sempurna dan transparan.

Sable, an archivist, had spent her life cataloguing the moods of strangers, and had grown expert at feeling nothing at all.

Sable, seorang arsiparis, telah menghabiskan hidupnya mengarsipkan suasana hati orang-orang asing, dan telah menjadi ahli dalam merasakan tak ada apa pun sama sekali.

Then the glass in her own apartment began to malfunction. Where it should have shown her practised emptiness, it flickered instead with colours she did not recognise as her own — a restless amber, a stubborn green.

Kemudian kaca di apartemennya sendiri mulai bermasalah. Di tempat yang seharusnya menampilkan kekosongan yang telah ia latih, kaca itu justru berkelip dengan warna-warna yang tidak ia kenali sebagai miliknya sendiri — kuning keemasan yang gelisah, hijau yang keras kepala.

She consulted the engineers, who found no fault in the mechanism. The fault, they implied delicately, was in her. Somewhere beneath the surface she had been cultivating, something unsanctioned had taken root.

Ia berkonsultasi dengan para insinyur, yang tidak menemukan kerusakan pada mekanismenya. Kesalahannya, mereka menyiratkan dengan hati-hati, ada pada dirinya. Di suatu tempat di bawah permukaan yang telah ia pupuk, sesuatu yang tak sah telah berakar.

For the first time in years, Sable was curious about what she contained.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Sable merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam dirinya.

She stopped repairing the glass. She let it show whatever it wished, and she watched, as a stranger might, the slow return of a self she had disowned.

Ia berhenti memperbaiki kacanya. Ia membiarkannya menampilkan apa pun yang diinginkannya, dan ia mengamati, seperti seorang asing yang mengamati, kembalinya perlahan diri yang pernah ia ingkari.

Her neighbours were scandalised, and the council issued warnings. But others, quietly, began to let their own windows drift out of regulation, until whole streets glowed with the unruly, contradictory light of people who had remembered how to feel.

Para tetangganya terkejut, dan dewan kota mengeluarkan peringatan. Namun yang lain, diam-diam, mulai membiarkan jendela mereka sendiri menyimpang dari peraturan, hingga seluruh jalan bersinar dengan cahaya yang liar dan penuh pertentangan dari orang-orang yang telah mengingat kembali cara merasakan.

The transparent city, it turned out, had never truly been transparent. It had only been afraid. And fear, unlike glass, cannot be legislated into clarity.

Kota yang transparan itu, ternyata, tidak pernah benar-benar transparan. Ia hanya selalu ketakutan. Dan ketakutan, tidak seperti kaca, tidak bisa dijadikan jernih oleh peraturan.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play