A Burlesque Biography
A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
Mark Twain traces his 'noble' family tree through a parade of highwaymen, con men, and stowaways — proving his ancestors' criminal talents were matched only by their spectacularly bad luck.
Two or three persons having at different times intimated that if I would write an autobiography they would read it when they got leisure, I yield at last to this frenzied public demand and herewith tender my history.
Dua atau tiga orang pada waktu yang berbeda telah mengisyaratkan bahwa jika aku menulis sebuah autobiografi mereka akan membacanya ketika mereka punya waktu luang, maka aku pun akhirnya menyerah pada tuntutan publik yang menggebu-gebu ini dan dengan ini kupersembahkan riwayat hidupku.
Ours is a noble house, and stretches a long way back into antiquity. The earliest ancestor the Twains have any record of was a friend of the family by the name of Higgins. This was in the eleventh century, when our people were living in Aberdeen, county of Cork, England. Why it is that our long line has ever since borne the maternal name (except when one of them now and then took a playful refuge in an alias to avert foolishness), instead of Higgins, is a mystery which none of us has ever felt much desire to stir. It is a kind of vague, pretty romance, and we leave it alone. All the old families do that way.
Keluarga kami adalah keluarga yang mulia, dan terbentang jauh ke belakang hingga zaman purba. Leluhur tertua yang tercatat dari keluarga Twain adalah seorang sahabat keluarga bernama Higgins. Ini terjadi pada abad kesebelas, ketika keluarga kami tinggal di Aberdeen, county Cork, Inggris. Mengapa garis keturunan kami yang panjang ini sejak itu selalu memakai nama pihak ibu (kecuali ketika salah seorang dari mereka sesekali mengambil nama samaran sebagai pelarian jenaka untuk menghindari kekonyolan), alih-alih Higgins, adalah sebuah misteri yang tak seorang pun dari kami pernah benar-benar ingin mengorek-ngoreknya. Itu semacam kisah romantis yang samar namun indah, dan kami membiarkannya begitu saja. Semua keluarga tua melakukan hal yang sama.
Arthour Twain was a man of considerable note—a solicitor on the highway in William Rufus's time. At about the age of thirty he went to one of those fine old English places of resort called Newgate, to see about something, and never returned again. While there he died suddenly.
Arthour Twain adalah seorang lelaki yang cukup terkemuka—seorang pengacara jalanan pada masa William Rufus. Pada usia sekitar tiga puluh tahun ia pergi ke salah satu tempat peristirahatan lama Inggris yang bagus bernama Newgate, untuk mengurus sesuatu, dan tak pernah kembali lagi. Selagi di sana ia meninggal mendadak.
Augustus Twain seems to have made something of a stir about the year 1160. He was as full of fun as he could be, and used to take his old saber and sharpen it up, and get in a convenient place on a dark night, and stick it through people as they went by, to see them jump. He was a born humorist.
Augustus Twain tampaknya membuat sedikit kehebohan sekitar tahun 1160. Ia begitu suka bersenang-senang semampu yang ia bisa, dan biasa mengambil pedang tuanya dan mengasahnya, lalu mencari tempat yang nyaman pada malam yang gelap, dan menusukkannya menembus orang-orang yang lewat, hanya untuk melihat mereka melompat kaget. Ia seorang pelawak sejati.
But he got to going too far with it; and the first time he was found stripping one of these parties, the authorities removed one end of him, and put it up on a nice high place on Temple Bar, where it could contemplate the people and have a good time. He never liked any situation so much or stuck to it so long.
Tetapi ia mulai kelewatan dengan kebiasaan itu; dan pada kesempatan pertama ketika ia kedapatan sedang merampas barang salah satu korbannya, para penguasa memindahkan salah satu ujung tubuhnya, dan meletakkannya di tempat yang tinggi dan bagus di Temple Bar, di mana ia bisa merenungi orang-orang dan bersenang-senang. Ia tak pernah menyukai situasi apa pun sebesar itu atau bertahan begitu lama di sana.
Then for the next two hundred years the family tree shows a succession of soldiers—noble, high-spirited fellows, who always went into battle singing, right behind the army, and always went out a-whooping, right ahead of it.
Kemudian untuk dua ratus tahun berikutnya, silsilah keluarga menunjukkan serangkaian prajurit—orang-orang mulia dan bersemangat tinggi, yang selalu maju ke medan perang sambil bernyanyi, tepat di belakang barisan pasukan, dan selalu keluar sambil bersorak-sorai, tepat di depan barisan itu.
This is a scathing rebuke to old dead Froissart's poor witticism that our family tree never had but one limb to it, and that that one stuck out at right angles, and bore fruit winter and summer.
Ini adalah bantahan tajam terhadap sindiran buruk mendiang Froissart bahwa pohon keluarga kami tak pernah punya lebih dari satu cabang, dan cabang itu menjulur tegak lurus, dan berbuah baik musim dingin maupun musim panas.
Early in the fifteenth century we have Beau Twain, called “the Scholar.” He wrote a beautiful, beautiful hand. And he could imitate anybody's hand so closely that it was enough to make a person laugh his head off to see it. He had infinite sport with his talent. But by and by he took a contract to break stone for a road, and the roughness of the work spoiled his hand. Still, he enjoyed life all the time he was in the stone business, which, with inconsiderable intervals, was some forty-two years. In fact, he died in harness.
Awal abad kelima belas kita punya Beau Twain, yang dijuluki "Sang Cendekiawan." Ia menulis dengan tulisan tangan yang begitu indah. Dan ia bisa meniru tulisan tangan siapa pun dengan begitu persis sehingga cukup membuat orang tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Ia bersenang-senang tanpa batas dengan bakatnya itu. Tetapi lama-kelamaan ia mengambil kontrak untuk memecah batu bagi sebuah jalan, dan kekasaran pekerjaan itu merusak tulisan tangannya. Meski begitu, ia menikmati hidupnya sepanjang waktu ia berkecimpung dalam usaha batu itu, yang, dengan jeda-jeda kecil, berlangsung sekitar empat puluh dua tahun. Malahan, ia meninggal di tengah pekerjaannya.
During all those long years he gave such satisfaction that he never was through with one contract a week till the government gave him another. He was a perfect pet. And he was always a favorite with his fellow-artists, and was a conspicuous member of their benevolent secret society, called the Chain Gang. He always wore his hair short, had a preference for striped clothes, and died lamented by the government. He was a sore loss to his country. For he was so regular.
Sepanjang tahun-tahun yang panjang itu ia memberikan kepuasan sedemikian rupa sehingga ia tak pernah menyelesaikan satu kontrak dalam seminggu sebelum pemerintah memberinya kontrak lain. Ia benar-benar kesayangan. Dan ia selalu menjadi favorit di antara rekan-rekan seninya, dan menjadi anggota terkemuka dari perkumpulan rahasia amal mereka, yang disebut Rantai Regu. Ia selalu memotong rambutnya pendek, punya kesukaan pada pakaian bergaris, dan meninggal diratapi oleh pemerintah. Ia adalah kehilangan besar bagi negaranya. Sebab ia begitu teratur.
Some years later we have the illustrious John Morgan Twain. He came over to this country with Columbus in 1492 as a passenger. He appears to have been of a crusty, uncomfortable disposition. He complained of the food all the way over, and was always threatening to go ashore unless there was a change. He wanted fresh shad.
Beberapa tahun kemudian kita punya John Morgan Twain yang termasyhur. Ia datang ke negeri ini bersama Columbus pada tahun 1492 sebagai penumpang. Ia tampaknya memiliki watak yang keras kepala dan tak mudah puas. Ia mengeluh soal makanan sepanjang perjalanan, dan selalu mengancam akan turun ke darat kecuali ada perubahan. Ia ingin ikan shad segar.
Hardly a day passed over his head that he did not go idling about the ship with his nose in the air, sneering about the commander, and saying he did not believe Columbus knew where he was going to or had ever been there before. The memorable cry of “Land ho!” thrilled every heart in the ship but his. He gazed awhile through a piece of smoked glass at the penciled line lying on the distant water, and then said: “Land be hanged—it's a raft!”
Nyaris tak ada satu hari pun berlalu tanpa ia berkeliaran malas di kapal dengan hidung mendongak, mencibir sang komandan, dan berkata ia tak percaya Columbus tahu ke mana ia akan pergi atau pernah ke sana sebelumnya. Seruan bersejarah "Daratan terlihat!" menggetarkan setiap hati di kapal itu kecuali hatinya. Ia menatap sejenak melalui sekeping kaca hitam pada garis samar yang tergambar di air jauh itu, lalu berkata: "Daratan digantung saja—itu hanya rakit!"
When this questionable passenger came on board the ship, he brought nothing with him but an old newspaper containing a handkerchief marked “B. G.,” one cotton sock marked “L. W. C.,” one woolen one marked “D. F.,” and a night-shirt marked “O. M. R.” And yet during the voyage he worried more about his “trunk,” and gave himself more airs about it, than all the rest of the passengers put together. If the ship was “down by the head,” and would not steer, he would go and move his “trunk” further aft, and then watch the effect. If the ship was “by the stern,” he would suggest to Columbus to detail some men to “shift that baggage.”
Ketika penumpang yang meragukan ini naik ke kapal, ia tak membawa apa pun kecuali sehelai koran tua berisi sehelai saputangan bertanda "B. G.", sebuah kaus kaki katun bertanda "L. W. C.", sebuah kaus kaki wol bertanda "D. F.", dan sebuah baju tidur bertanda "O. M. R." Namun selama pelayaran itu ia lebih mengkhawatirkan "koper"nya, dan berlagak lebih besar soal itu, daripada semua penumpang lain digabung jadi satu. Jika kapal itu "condong ke depan," dan tak mau dikendalikan, ia akan pergi dan memindahkan "kopernya" lebih ke buritan, lalu mengamati efeknya. Jika kapal itu "condong ke belakang," ia akan menyarankan Columbus untuk menugaskan beberapa orang "memindahkan barang bawaan itu."
In storms he had to be gagged, because his wailings about his “trunk” made it impossible for the men to hear the orders. The man does not appear to have been openly charged with any gravely unbecoming thing, but it is noted in the ship's log as a “curious circumstance” that albeit he brought his baggage on board the ship in a newspaper, he took it ashore in four trunks, a queensware crate, and a couple of champagne baskets. But when he came back insinuating, in an insolent, swaggering way, that some of this things were missing, and was going to search the other passengers' baggage, it was too much, and they threw him overboard.
Dalam badai ia harus dibungkam, sebab rengekannya soal "koper"nya membuat orang-orang tak bisa mendengar perintah. Orang ini tampaknya tak pernah dituduh secara terbuka atas hal buruk apa pun, tetapi tercatat dalam log kapal sebagai suatu "keadaan aneh" bahwa meskipun ia membawa barang bawaannya ke kapal dalam selembar koran, ia membawanya turun ke darat dalam empat koper, sebuah peti pecah belah, dan sepasang keranjang sampanye. Tetapi ketika ia kembali dengan sikap sombong dan mengesankan bahwa beberapa barangnya hilang, dan hendak menggeledah barang bawaan penumpang lain, itu sudah terlalu berlebihan, dan mereka pun melemparnya ke laut.
They watched long and wonderingly for him to come up, but not even a bubble rose on the quietly ebbing tide. But while every one was most absorbed in gazing over the side, and the interest was momentarily increasing, it was observed with consternation that the vessel was adrift and the anchor-cable hanging limp from the bow. Then in the ship's dimmed and ancient log we find this quaint note:
Mereka menunggu lama dan penuh keheranan untuk melihatnya muncul kembali, tetapi tak satu pun gelembung muncul di air pasang yang tenang surut itu. Tetapi selagi semua orang paling terpaku memandangi sisi kapal, dan rasa penasaran meningkat sesaat demi sesaat, teramati dengan panik bahwa kapal itu hanyut dan tali jangkarnya menjuntai lemas dari haluan. Kemudian dalam log kapal yang lama dan kabur itu kita temukan catatan aneh ini:
“In time it was discouvered yt ye troblesome passenger hadde gone downe and got ye anchor, and toke ye same and solde it to ye dam sauvages from ye interior, saying yt he hadde founde it, ye sonne of a ghun!”
"Pada waktunya diketahui bahwa penumpang yang menyusahkan itu telah turun dan mengambil sang jangkar, lalu membawanya dan menjualnya kepada orang-orang liar terkutuk dari pedalaman, sambil berkata bahwa ia menemukannya, dasar bajingan!"
Yet this ancestor had good and noble instincts, and it is with pride that we call to mind the fact that he was the first white person who ever interested himself in the work of elevating and civilizing our Indians. He built a commodious jail and put up a gallows, and to his dying day he claimed with satisfaction that he had had a more restraining and elevating influence on the Indians than any other reformer that ever labored among them.
Namun leluhur ini memiliki naluri yang baik dan mulia, dan dengan bangga kami mengenang bahwa ialah orang kulit putih pertama yang tertarik pada usaha mengangkat derajat dan memberadabkan orang-orang Indian kami. Ia membangun sebuah penjara yang luas dan mendirikan sebuah tiang gantungan, dan hingga hari kematiannya ia mengklaim dengan puas bahwa ia telah memberikan pengaruh yang lebih membatasi dan mengangkat derajat kepada orang-orang Indian daripada reformis mana pun yang pernah bekerja di antara mereka.
At this point the chronicle becomes less frank and chatty, and closes abruptly by saying that the old voyager went to see his gallows perform on the first white man ever hanged in America, and while there received injuries which terminated in his death.
Pada titik ini catatan sejarah menjadi kurang terus terang dan mengalir, dan berakhir mendadak dengan mengatakan bahwa sang pengembara tua itu pergi menyaksikan tiang gantungannya beraksi pada orang kulit putih pertama yang pernah digantung di Amerika, dan selagi di sana ia menerima luka-luka yang berujung pada kematiannya.
The great-grandson of the “Reformer” flourished in sixteen hundred and something, and was known in our annals as “the old Admiral,” though in history he had other titles. He was long in command of fleets of swift vessels, well armed and manned, and did great service in hurrying up merchantmen. Vessels which he followed and kept his eagle eye on, always made good fair time across the ocean. But if a ship still loitered in spite of all he could do, his indignation would grow till he could contain himself no longer—and then he would take that ship home where he lived and keep it there carefully, expecting the owners to come for it, but they never did.
Cicit dari "Sang Reformis" itu berjaya sekitar seribu enam ratus sekian, dan dikenal dalam catatan kami sebagai "Sang Laksamana tua," meskipun dalam sejarah ia punya gelar-gelar lain. Ia lama memimpin armada kapal-kapal cepat, bersenjata dan berawak lengkap, dan berjasa besar dalam mempercepat kapal-kapal dagang. Kapal-kapal yang ia ikuti dan awasi dengan mata elangnya, selalu membuat waktu tempuh yang baik menyeberangi lautan. Tetapi jika sebuah kapal masih juga berlambat-lambat meski ia sudah berusaha semampunya, amarahnya akan terus tumbuh hingga ia tak lagi bisa menahan diri—lalu ia akan membawa kapal itu pulang ke tempat tinggalnya dan menyimpannya dengan hati-hati di sana, menunggu para pemiliknya datang mengambilnya, tetapi mereka tak pernah datang.
And he would try to get the idleness and sloth out of the sailors of that ship by compelling them to take invigorating exercise and a bath. He called it “walking a plank.” All the pupils liked it. At any rate, they never found any fault with it after trying it. When the owners were late coming for their ships, the Admiral always burned them, so that the insurance money should not be lost. At last this fine old tar was cut down in the fullness of his years and honors. And to her dying day, his poor heart-broken widow believed that if he had been cut down fifteen minutes sooner he might have been resuscitated.
Dan ia akan mencoba mengusir kemalasan dan kelambanan dari para pelaut kapal itu dengan memaksa mereka melakukan olahraga yang menyegarkan serta mandi. Ia menyebutnya "berjalan di atas papan." Semua muridnya menyukainya. Bagaimanapun, mereka tak pernah mengeluh soal itu setelah mencobanya. Ketika para pemilik terlambat datang mengambil kapal-kapal mereka, sang Laksamana selalu membakarnya, agar uang asuransinya tidak hilang. Akhirnya pelaut tua yang hebat ini tumbang di puncak usia dan kehormatannya. Dan hingga hari kematiannya, jandanya yang malang dan patah hati percaya bahwa jika saja ia diturunkan lima belas menit lebih awal, mungkin ia bisa dihidupkan kembali.
Charles Henry Twain lived during the latter part of the seventeenth century, and was a zealous and distinguished missionary. He converted sixteen thousand South Sea islanders, and taught them that a dog-tooth necklace and a pair of spectacles was not enough clothing to come to divine service in. His poor flock loved him very, very dearly; and when his funeral was over, they got up in a body (and came out of the restaurant) with tears in their eyes, and saying, one to another, that he was a good tender missionary, and they wished they had some more of him.
Charles Henry Twain hidup pada akhir abad ketujuh belas, dan adalah seorang misionaris yang bersemangat dan terkemuka. Ia menobatkan enam belas ribu penduduk pulau-pulau Laut Selatan, dan mengajarkan mereka bahwa kalung gigi anjing dan sepasang kacamata bukanlah pakaian yang cukup untuk menghadiri kebaktian. Kawanannya yang malang sangat, sangat menyayanginya; dan ketika pemakamannya usai, mereka bangkit serentak (dan keluar dari restoran) dengan air mata di mata mereka, sambil berkata satu sama lain, bahwa ia adalah misionaris yang baik dan lembut, dan mereka berharap punya lebih banyak lagi orang sepertinya.
Pah-go-to-wah-wah-pukketekeewis (Mighty-Hunter-with-a-Hog-Eye-Twain) adorned the middle of the eighteenth century, and aided General Braddock with all his heart to resist the oppressor Washington. It was this ancestor who fired seventeen times at our Washington from behind a tree. So far the beautiful romantic narrative in the moral story-books is correct; but when that narrative goes on to say that at the seventeenth round the awe-stricken savage said solemnly that that man was being reserved by the Great Spirit for some mighty mission, and he dared not lift his sacrilegious rifle against him again, the narrative seriously impairs the integrity of history. What he did say was:
Pah-go-to-wah-wah-pukketekeewis (Pemburu-Perkasa-Bermata-Kulit-Babi Twain) menghiasi pertengahan abad kedelapan belas, dan membantu Jenderal Braddock sepenuh hati untuk melawan sang penindas Washington. Leluhur inilah yang menembak tujuh belas kali ke arah Washington kita dari balik sebatang pohon. Sejauh ini kisah romantis yang indah dalam buku-buku cerita moral itu benar; tetapi ketika kisah itu berlanjut mengatakan bahwa pada tembakan ketujuh belas orang liar yang kagum itu berkata dengan khidmat bahwa lelaki itu sedang disimpan oleh Sang Roh Agung untuk suatu misi besar, dan ia tak berani lagi mengangkat senapan durhakanya melawannya, kisah itu sungguh merusak keaslian sejarah. Yang sesungguhnya ia katakan adalah:
“It ain't no (hic) no use. 'At man's so drunk he can't stan' still long enough for a man to hit him. I (hic) I can't 'ford to fool away any more am'nition on him.”
"Percuma (hik) percuma saja. Orang itu terlalu mabuk sampai tak bisa diam cukup lama untuk ditembak orang. Aku (hik) aku tak sanggup membuang-buang lebih banyak peluru lagi untuknya."
That was why he stopped at the seventeenth round, and it was a good, plain, matter-of-fact reason, too, and one that easily commends itself to us by the eloquent, persuasive flavor of probability there is about it.
Itulah sebabnya mengapa ia berhenti pada tembakan ketujuh belas, dan itu alasan yang sederhana, jelas, dan masuk akal pula, satu yang dengan mudah bisa diterima kita berkat cita rasa kemungkinan yang fasih dan meyakinkan yang dimilikinya.
I also enjoyed the story-book narrative, but I felt a marring misgiving that every Indian at Braddock's Defeat who fired at a soldier a couple of times (two easily grows to seventeen in a century), and missed him, jumped to the conclusion that the Great Spirit was reserving that soldier for some grand mission; and so I somehow feared that the only reason why Washington's case is remembered and the others forgotten is, that in his the prophecy came true, and in that of the others it didn't.
Aku juga menikmati kisah dalam buku cerita itu, tetapi aku merasakan sebuah kecurigaan yang mengganggu bahwa setiap orang Indian di Kekalahan Braddock yang menembak seorang prajurit beberapa kali (dua dengan mudah membengkak menjadi tujuh belas dalam satu abad), dan meleset, langsung menyimpulkan bahwa Sang Roh Agung sedang menyimpan prajurit itu untuk suatu misi besar; dan jadi aku entah bagaimana khawatir bahwa satu-satunya alasan mengapa kasus Washington diingat sementara yang lainnya dilupakan adalah, bahwa dalam kasusnya ramalan itu terwujud, sedangkan dalam kasus yang lain tidak.
There are not books enough on earth to contain the record of the prophecies Indians and other unauthorized parties have made; but one may carry in his overcoat pockets the record of all the prophecies that have been fulfilled.
Tidak ada cukup buku di bumi ini untuk memuat catatan ramalan-ramalan yang telah dibuat oleh orang-orang Indian dan pihak-pihak tak berwenang lainnya; tetapi seseorang bisa membawa dalam saku mantelnya catatan seluruh ramalan yang benar-benar terwujud.
I will remark here, in passing, that certain ancestors of mine are so thoroughly well-known in history by their aliases, that I have not felt it to be worth while to dwell upon them, or even mention them in the order of their birth.
Aku akan mencatat di sini, sekilas saja, bahwa leluhur-leluhur tertentuku begitu terkenal dalam sejarah dengan nama samaran mereka, sehingga aku tak merasa perlu membahas mereka, atau bahkan menyebut mereka menurut urutan kelahiran mereka.
Among these may be mentioned Richard Brinsley Twain, alias Guy Fawkes; John Wentworth Twain, alias Sixteen-String Jack; William Hogarth Twain, alias Jack Sheppard; Ananias Twain, alias Baron Munchausen; John George Twain, alias Captain Kydd; and then there are George Francis Twain, Tom Pepper, Nebuchadnezzar, and Baalam's Ass—they all belong to our family, but to a branch of it somewhat distinctly removed from the honorable direct line—in fact, a collateral branch, whose members chiefly differ from the ancient stock in that, in order to acquire the notoriety we have always yearned and hungered for, they have got into a low way of going to jail instead of getting hanged.
Di antaranya bisa disebutkan Richard Brinsley Twain, alias Guy Fawkes; John Wentworth Twain, alias Sixteen-String Jack; William Hogarth Twain, alias Jack Sheppard; Ananias Twain, alias Baron Munchausen; John George Twain, alias Kapten Kydd; dan lalu ada George Francis Twain, Tom Pepper, Nebukadnezar, dan Keledai Bileam—mereka semua termasuk keluarga kami, tetapi cabang yang agak jauh terpisah dari garis lurus yang terhormat—malah, cabang sampingan, yang para anggotanya terutama berbeda dari garis keturunan kuno karena, demi memperoleh ketenaran yang selalu kami dambakan dan dahagakan, mereka jatuh ke kebiasaan rendah masuk penjara alih-alih digantung.
It is not well, when writing an autobiography, to follow your ancestry down too close to your own time—it is safest to speak only vaguely of your great-grandfather, and then skip from there to yourself, which I now do.
Tidaklah baik, ketika menulis sebuah autobiografi, untuk menelusuri garis leluhurmu terlalu dekat ke masa kini—paling aman hanya berbicara samar-samar tentang kakek buyutmu, lalu melompat dari sana ke dirimu sendiri, yang sekarang kulakukan.
I was born without teeth—and there Richard III. had the advantage of me; but I was born without a humpback, likewise, and there I had the advantage of him. My parents were neither very poor nor conspicuously honest.
Aku lahir tanpa gigi—dan di situ Richard III memiliki keunggulan dibanding aku; tetapi aku juga lahir tanpa punggung bungkuk, dan di situ aku memiliki keunggulan dibandingnya. Orang tuaku tidak terlalu miskin ataupun terlalu mencolok kejujurannya.
But now a thought occurs to me. My own history would really seem so tame contrasted with that of my ancestors, that it is simply wisdom to leave it unwritten until I am hanged. If some other biographies I have read had stopped with the ancestry until a like event occurred, it would have been a felicitous thing for the reading public. How does it strike you?
Tetapi kini terlintas sebuah pikiran padaku. Riwayat hidupku sendiri akan tampak begitu hambar dibandingkan dengan riwayat leluhur-leluhurku, sehingga sungguh bijaksana untuk membiarkannya tak tertulis sampai aku digantung. Jika beberapa biografi lain yang pernah kubaca berhenti pada bagian leluhur sampai peristiwa serupa terjadi, itu akan menjadi hal yang menyenangkan bagi para pembaca. Bagaimana menurutmu?