The Third-Party Clause
Cerita bahasa Inggris gratis level B2 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
When her brother discovers that her school's study app has been quietly selling student data, Paloma pushes the school to take a closer look at what it approved.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Paloma had been using the school's approved study app since ninth grade, tracking her focus sessions and quiz scores. She had never read past the first line of its privacy policy. Nobody her age actually read those, or so she'd always assumed.
Paloma sudah memakai aplikasi belajar resmi dari sekolah sejak kelas sembilan, untuk mencatat sesi fokus dan nilai kuisnya. Ia belum pernah membaca kebijakan privasinya lebih dari baris pertama. Tak ada yang seusianya yang benar-benar membaca itu, atau begitulah anggapannya selama ini.
Everything changed the day her older brother, studying data privacy at university, asked to see the app on her phone.
Semuanya berubah pada hari kakak laki-lakinya, yang kuliah di bidang privasi data, meminta untuk melihat aplikasi itu di ponselnya.
"Did you know this thing sells your usage patterns to a marketing firm?" he asked, scrolling through settings she'd never opened. "Your study habits, your stress levels during exams — all of it, packaged and sold."
"Kamu tahu nggak, aplikasi ini menjual pola penggunaanmu ke sebuah perusahaan pemasaran?" tanyanya sambil menggulir pengaturan yang belum pernah Paloma buka. "Kebiasaan belajarmu, tingkat stresmu selama ujian, semuanya dikemas dan dijual."
"It's a school app, though," Paloma said. "The school wouldn't approve something that does that."
"Tapi ini aplikasi sekolah," kata Paloma. "Sekolah tidak mungkin menyetujui sesuatu yang begitu."
"The school probably didn't read the fine print either," her brother said. "Third-party data sharing is buried in clause fourteen. I only found it because I was looking."
"Sekolah mungkin juga tidak membaca bagian yang kecil-kecil itu," kata kakaknya. "Pembagian data ke pihak ketiga terselip di pasal empat belas. Aku cuma menemukannya karena memang mencarinya."
Paloma felt a strange mix of embarrassment and anger — embarrassed that she hadn't checked, angry that checking had been made so difficult. If the terms had been written clearly, she would have noticed months ago.
Paloma merasakan campuran aneh antara malu dan marah, malu karena tidak memeriksa, marah karena memeriksa dibuat begitu sulit. Seandainya syarat-syaratnya ditulis dengan jelas, ia pasti sudah menyadarinya berbulan-bulan lalu.
She brought it up with her school counselor the next day, expecting to be told it wasn't a big deal.
Keesokan harinya ia mengangkat hal itu kepada konselor sekolah, dengan perkiraan akan dibilang bukan masalah besar.
"I'll be honest, I never read past the summary either," the counselor admitted. "Let me look into it properly before I recommend it to anyone else."
"Jujur saja, aku juga tidak pernah membaca lebih dari ringkasannya," konselor itu mengaku. "Biar kuperiksa dengan benar sebelum merekomendasikannya ke siapa pun lagi."
Two weeks later, the school sent a notice to all students. The app's contract was under review, and a version with stricter data settings was being considered as a replacement.
Dua minggu kemudian, sekolah mengirim pemberitahuan kepada semua siswa. Kontrak aplikasi itu sedang ditinjau, dan versi dengan pengaturan data yang lebih ketat sedang dipertimbangkan sebagai penggantinya.
"You actually got something changed," her brother said, sounding genuinely surprised. "Most people just complain and move on."
"Kamu benar-benar berhasil mengubah sesuatu," kata kakaknya, terdengar sungguh-sungguh terkejut. "Kebanyakan orang cuma mengeluh lalu melupakannya."
"I didn't get anything changed yet," Paloma said. "I just asked one question the school hadn't asked."
"Aku belum mengubah apa-apa," kata Paloma. "Aku cuma mengajukan satu pertanyaan yang belum ditanyakan sekolah."
She still used the app while the review continued, but she read every settings menu now, disabling whatever she could. It felt less like using a tool and more like negotiating with one.
Ia masih memakai aplikasi itu selama peninjauan berlangsung, tetapi sekarang ia membaca setiap menu pengaturan dan menonaktifkan apa pun yang bisa dinonaktifkan. Rasanya bukan seperti memakai sebuah alat, melainkan seperti bernegosiasi dengannya.
"Small thing," she told her brother. "But at least now I know what I agreed to."
"Hal kecil," katanya kepada kakaknya. "Tapi setidaknya sekarang aku tahu apa yang kusetujui."






