The Reunion Tour
Cerita bahasa Inggris gratis level C1 untuk pelajar, bisa dibaca online dalam 5 bahasa, dengan pilihan untuk mendengarkannya di aplikasi Storyteller gratis.
A band with one old hit tours tiny venues with failing knees and an unsettled quarrel, until a small crowd gives them one unexpectedly perfect night.
Itu cuplikannya! Dengarkan cerita lengkapnya di aplikasi Storyteller gratis. Unduh aplikasi
Audio belum tersedia saat ini.
Twenty-five years after their only hit, the Velvet Kettles reunited for a tour that the promoter, with a straight face, described as "intimate." What he meant was that the venues held between sixty and ninety people, and that two of them were bowling alleys. Tahir, who had been the band's guitarist and had spent the intervening quarter-century teaching music to children who preferred their phones, accepted at once. His knees took longer to persuade.
Dua puluh lima tahun setelah satu-satunya lagu hit mereka, Velvet Kettles bersatu kembali untuk sebuah tur yang oleh promotornya, dengan wajah serius, disebut "intim." Maksudnya, tempat-tempatnya hanya menampung enam puluh sampai sembilan puluh orang, dan dua di antaranya adalah arena bowling. Tahir, mantan gitaris band itu yang selama seperempat abad belakangan mengajar musik kepada anak-anak yang lebih suka ponsel mereka, langsung menerima. Lututnya butuh waktu lebih lama untuk dibujuk.
The first rehearsal was held in Zofia's garage, where the bass player had kept her old amplifier under a tarpaulin like a sleeping animal. Nobody had warned him how much of the afternoon would consist of apologising. The drummer apologised for his hands, which no longer did what he told them; the singer apologised for a key change he had always disliked; Zofia apologised to everyone in advance. What nobody apologised for was the old quarrel, the one about the songwriting credits. Tahir had carried it for a quarter of a century like a stone in his shoe, and had not realised it was still there until the singer walked in wearing the same smile.
Latihan pertama diadakan di garasi Zofia, tempat si pemain bas menyimpan amplifier lamanya di bawah terpal seperti hewan yang sedang tidur. Tak ada yang memperingatkannya bahwa sebagian besar sore itu akan dihabiskan untuk meminta maaf. Si drummer minta maaf untuk tangannya, yang tak lagi menuruti perintahnya; si vokalis minta maaf untuk pergantian nada yang selalu tidak ia sukai; Zofia minta maaf kepada semua orang terlebih dahulu. Yang tak dimintai maaf oleh siapa pun adalah pertengkaran lama, soal hak cipta penulisan lagu. Tahir telah memikulnya seperempat abad seperti kerikil di dalam sepatu, dan tak sadar kerikil itu masih di sana sampai si vokalis masuk dengan senyum yang sama.
The tour itself was a series of small humiliations carried out with enormous dignity. In a town with one traffic light, the stage was a stack of pallets. In a hotel lounge, a man asked them to turn down because he was trying to eat. Having spent the first week arguing about the set list, they spent the second arguing about stairs. The drummer could manage three, the singer could manage none without commentary, and Tahir, who would never have admitted it, planned his movements across every stage like a man crossing a frozen pond.
Turnya sendiri merupakan serangkaian penghinaan kecil yang dijalani dengan martabat luar biasa. Di sebuah kota dengan satu lampu lalu lintas, panggungnya setumpuk palet. Di lounge sebuah hotel, seorang pria meminta mereka mengecilkan suara karena ia sedang berusaha makan. Setelah menghabiskan minggu pertama berdebat soal daftar lagu, mereka menghabiskan minggu kedua berdebat soal tangga. Si drummer sanggup tiga anak tangga, si vokalis tak sanggup satu pun tanpa berkomentar, dan Tahir, yang tak akan pernah mengakuinya, merencanakan gerakannya di setiap panggung seperti orang menyeberangi kolam beku.
The sixth night was in the back room of a laundromat that had been converted, with more optimism than money, into a venue. Forty people came. Tahir counted them from the wings, as he always did, and told himself it was a respectable number for a Tuesday. It was only when the opening chords of "Seven Floors Down" rang out that he realised the crowd knew every word. It included women his own age, a teenager in a borrowed jacket and a man who had clearly driven a long way. Never in the old days had a room sung the second verse back at them.
Malam keenam diadakan di ruang belakang sebuah binatu swalayan yang diubah, dengan lebih banyak optimisme daripada uang, menjadi tempat pertunjukan. Empat puluh orang datang. Tahir menghitung mereka dari balik panggung, seperti biasa, dan meyakinkan diri bahwa itu jumlah yang pantas untuk hari Selasa. Baru ketika akor pembuka "Seven Floors Down" berdentang, ia sadar bahwa penonton hafal setiap katanya. Di antara mereka ada perempuan seusianya, seorang remaja dengan jaket pinjaman, dan seorang pria yang jelas telah menempuh perjalanan jauh. Pada masa lalu, belum pernah ada ruangan yang menyanyikan bait kedua kembali kepada mereka.
He lost the rest of the song to a strange, clear calm. His fingers remembered the solo before his head did. In the middle of the bridge the singer turned and looked at him, not smiling, the way you look at someone to confirm that they heard the same thing you did. Nobody dropped a note. Had the sound engineer understood how rare that was, he would doubtless have recorded it; as it was, he was eating a pastry.
Sisa lagu itu lenyap ke dalam ketenangan yang aneh dan jernih. Jari-jarinya mengingat solo itu sebelum kepalanya. Di tengah bagian jembatan, si vokalis menoleh dan menatapnya, tidak tersenyum, seperti orang menatap seseorang untuk memastikan bahwa ia mendengar hal yang sama. Tak ada yang meleset satu nada pun. Seandainya si teknisi suara mengerti betapa langkanya itu, ia pasti merekamnya; nyatanya, ia sedang makan kue.
Afterwards they sat on beer crates in the alley behind the laundromat, too tired to be polite. Zofia held an ice pack to her wrist, and the drummer had fallen asleep upright. The singer said nothing for a long time, and then he said, "I looked at the old contract last week. The credits. You were right."
Sesudahnya mereka duduk di atas peti bir di gang belakang binatu, terlalu lelah untuk bersopan-sopan. Zofia menempelkan kantong es di pergelangan tangannya, dan si drummer tertidur dalam keadaan duduk tegak. Si vokalis lama tak berkata apa-apa, lalu berkata, "Minggu lalu aku melihat kontrak lama itu. Soal pencantuman namanya. Kamu benar."
"I know," Tahir said. It was strange how little it weighed now; he had carried it for so long that he had expected it to be heavier.
"Aku tahu," kata Tahir. Aneh betapa ringannya itu sekarang; ia telah memikulnya begitu lama sehingga mengira akan lebih berat.
"Same time next year?"
"Tahun depan, waktu yang sama?"
Tahir shifted his leg, and his knee gave a small, theatrical crack. "Ask me when I can climb stairs," he said.
Tahir menggeser kakinya, dan lututnya berbunyi retak kecil yang teatrikal. "Tanya aku lagi kalau aku sudah bisa naik tangga," katanya.






