Cap O' Rushes
A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A father disowns his youngest daughter for an odd answer about her love for him, so she disguises herself in a cloak of rushes and finds work far from home.
Well, there was once a very rich gentleman, and he'd three daughters, and he thought he'd see how fond they were of him. So he says to the first, “How much do you love me, my dear?”
Dahulu kala ada seorang tuan yang sangat kaya, dan ia mempunyai tiga anak perempuan, dan ia berpikir ingin melihat seberapa besar cinta mereka kepadanya. Maka ia berkata kepada yang pertama, "Seberapa besar kau mencintaiku, anakku?"
“Why,” says she, “as I love my life.”
"Wah," kata gadis itu, "sebesar aku mencintai hidupku sendiri."
“That's good,” says he.
"Bagus," kata sang ayah.
So he says to the second, “How much do you love me, my dear?”
Maka ia berkata kepada yang kedua, "Seberapa besar kau mencintaiku, anakku?"
“Why,” says she, “better nor all the world.”
"Wah," kata gadis itu, "lebih dari segala sesuatu di dunia ini."
“That's good,” says he.
"Bagus," kata sang ayah.
So he says to the third, “How much do you love me, my dear?”
Maka ia berkata kepada yang ketiga, "Seberapa besar kau mencintaiku, anakku?"
“Why, I love you as fresh meat loves salt,” says she.
"Aku mencintaimu sebagaimana daging segar mencintai garam," kata gadis itu.
Well, he was that angry. “You don't love me at all,” says he, “and in my house you stay no more.” So he drove her out there and then, and shut the door in her face.
Nah, sang ayah begitu marah. "Kau sama sekali tidak mencintaiku," katanya, "dan di rumahku ini kau tak boleh tinggal lagi." Maka ia mengusirnya seketika itu juga, dan menutup pintu di depan wajahnya.
Well, she went away on and on till she came to a fen, and there she gathered a lot of rushes and made them into a kind of a sort of a cloak with a hood, to cover her from head to foot, and to hide her fine clothes. And then she went on and on till she came to a great house.
Nah, gadis itu berjalan terus dan terus hingga sampai ke sebuah rawa, dan di sana ia mengumpulkan banyak rumput teki dan menjalinnya menjadi semacam jubah berkerudung, untuk menutupi dirinya dari kepala hingga kaki, dan menyembunyikan pakaian bagusnya. Kemudian ia berjalan terus dan terus hingga sampai ke sebuah rumah besar.
“Do you want a maid?” says she.
"Apakah kalian membutuhkan seorang pelayan?" tanyanya.
“No, we don't,” said they.
"Tidak, kami tidak butuh," kata mereka.
“I haven't nowhere to go,” says she; “and I ask no wages, and do any sort of work,” says she.
"Aku tidak punya tempat tujuan lain," katanya; "dan aku tidak minta upah, dan mau mengerjakan pekerjaan apa saja," katanya.
“Well,” says they, “if you like to wash the pots and scrape the saucepans you may stay,” said they.
"Baiklah," kata mereka, "kalau kau mau mencuci panci dan menggosok wajan, kau boleh tinggal," kata mereka.
So she stayed there and washed the pots and scraped the saucepans and did all the dirty work. And because she gave no name they called her “Cap o' Rushes.”
Maka ia tinggal di sana dan mencuci panci serta menggosok wajan dan mengerjakan segala pekerjaan kotor. Dan karena ia tidak menyebutkan namanya, mereka memanggilnya "Cap o' Rushes."
Well, one day there was to be a great dance a little way off, and the servants were allowed to go and look on at the grand people. Cap o' Rushes said she was too tired to go, so she stayed at home.
Nah, pada suatu hari akan diadakan pesta dansa besar tak jauh dari sana, dan para pelayan diizinkan pergi untuk menonton orang-orang terpandang. Cap o' Rushes berkata ia terlalu lelah untuk pergi, jadi ia tinggal di rumah.
But when they were gone she offed with her cap o' rushes, and cleaned herself, and went to the dance. And no one there was so finely dressed as her.
Namun setelah mereka pergi, ia melepas jubah rumput tekinya, membersihkan diri, dan pergi ke pesta dansa itu. Dan tak ada seorang pun di sana yang berpakaian sebagus dirinya.
Well, who should be there but her master's son, and what should he do but fall in love with her the minute he set eyes on her. He wouldn't dance with any one else.
Nah, siapa sangka putra tuan rumahnya ada di sana, dan apa yang ia lakukan selain jatuh cinta pada gadis itu begitu matanya melihatnya. Ia tak mau berdansa dengan siapa pun yang lain.
But before the dance was done Cap o' Rushes slipt off, and away she went home. And when the other maids came back she was pretending to be asleep with her cap o' rushes on.
Namun sebelum dansa itu selesai, Cap o' Rushes menyelinap pergi, dan pulang ke rumah. Dan ketika para pelayan lain kembali, ia berpura-pura tertidur dengan jubah rumput tekinya terpasang.
Well, next morning they said to her, “You did miss a sight, Cap o' Rushes!”
Nah, keesokan paginya mereka berkata kepadanya, "Kau melewatkan pemandangan yang luar biasa, Cap o' Rushes!"
“What was that?” says she.
"Apa itu?" tanyanya.
“Why, the beautifullest lady you ever see, dressed right gay and ga'. The young master, he never took his eyes off her.”
"Wah, wanita tercantik yang pernah kau lihat, berpakaian begitu mewah dan anggun. Tuan muda, ia tak pernah melepaskan pandangannya darinya."
“Well, I should have liked to have seen her,” says Cap o' Rushes.
"Wah, aku ingin sekali melihatnya," kata Cap o' Rushes.
“Well, there's to be another dance this evening, and perhaps she'll be there.”
"Nah, akan ada dansa lagi malam ini, dan mungkin ia akan ada di sana."
But, come the evening, Cap o' Rushes said she was too tired to go with them. Howsoever, when they were gone, she offed with her cap o' rushes and cleaned herself, and away she went to the dance.
Namun, ketika malam tiba, Cap o' Rushes berkata ia terlalu lelah untuk pergi bersama mereka. Meski begitu, setelah mereka pergi, ia melepas jubah rumput tekinya dan membersihkan diri, lalu pergi ke pesta dansa itu.
The master's son had been reckoning on seeing her, and he danced with no one else, and never took his eyes off her. But, before the dance was over, she slipt off, and home she went, and when the maids came back she, pretended to be asleep with her cap o' rushes on.
Putra tuan rumah telah berharap untuk bertemu dengannya lagi, dan ia berdansa dengan tak seorang pun selain gadis itu, dan tak pernah melepaskan pandangannya darinya. Namun, sebelum dansa selesai, gadis itu menyelinap pergi, dan pulang ke rumah, dan ketika para pelayan kembali, ia berpura-pura tertidur dengan jubah rumput tekinya terpasang.
Next day they said to her again, “Well, Cap o' Rushes, you should ha' been there to see the lady. There she was again, gay and ga', and the young master he never took his eyes off her.”
Keesokan harinya mereka berkata lagi kepadanya, "Nah, Cap o' Rushes, kau seharusnya ada di sana untuk melihat wanita itu. Ia ada lagi di sana, begitu mewah dan anggun, dan tuan muda tak pernah melepaskan pandangannya darinya."
“Well, there,” says she, “I should ha' liked to ha' seen her.”
"Wah," katanya, "aku ingin sekali melihatnya."
“Well,” says they, “there's a dance again this evening, and you must go with us, for she's sure to be there.”
"Nah," kata mereka, "akan ada dansa lagi malam ini, dan kau harus ikut bersama kami, karena ia pasti akan ada di sana."
Well, come this evening, Cap o' Rushes said she was too tired to go, and do what they would she stayed at home. But when they were gone she offed with her cap o' rushes and cleaned herself, and away she went to the dance.
Nah, ketika malam itu tiba, Cap o' Rushes berkata ia terlalu lelah untuk pergi, dan apa pun yang mereka lakukan, ia tetap tinggal di rumah. Namun setelah mereka pergi, ia melepas jubah rumput tekinya dan membersihkan diri, lalu pergi ke pesta dansa itu.
The master's son was rarely glad when he saw her. He danced with none but her and never took his eyes off her. When she wouldn't tell him her name, nor where she came from, he gave her a ring and told her if he didn't see her again he should die.
Putra tuan rumah sangat gembira ketika melihatnya. Ia berdansa dengan tak seorang pun selain gadis itu dan tak pernah melepaskan pandangannya darinya. Ketika gadis itu tak mau memberitahukan namanya, atau dari mana asalnya, ia memberinya sebuah cincin dan berkata bahwa jika ia tak melihatnya lagi, ia akan mati.
Well, before the dance was over, off she slipped, and home she went, and when the maids came home she was pretending to be asleep with her cap o' rushes on.
Nah, sebelum dansa itu selesai, gadis itu menyelinap pergi, dan pulang ke rumah, dan ketika para pelayan kembali, ia berpura-pura tertidur dengan jubah rumput tekinya terpasang.
Well, next day they says to her, “There, Cap o' Rushes, you didn't come last night, and now you won't see the lady, for there's no more dances.”
Nah, keesokan harinya mereka berkata kepadanya, "Nah, Cap o' Rushes, kau tak datang tadi malam, dan sekarang kau tak akan melihat wanita itu lagi, karena tak ada lagi dansa."
“Well I should have rarely liked to have seen her,” says she.
"Wah, aku sungguh ingin sekali melihatnya," katanya.
The master's son he tried every way to find out where the lady was gone, but go where he might, and ask whom he might, he never heard anything about her. And he got worse and worse for the love of her till he had to keep his bed.
Putra tuan rumah mencoba segala cara untuk mencari tahu ke mana wanita itu pergi, tetapi ke mana pun ia pergi, dan siapa pun yang ia tanyai, ia tak pernah mendengar apa pun tentangnya. Dan ia semakin lama semakin parah karena cintanya pada wanita itu hingga ia harus berbaring di ranjang.
“Make some gruel for the young master,” they said to the cook. “He's dying for the love of the lady.” The cook she set about making it when Cap o' Rushes came in.
"Buatkan bubur untuk tuan muda," kata mereka kepada juru masak. "Ia sekarat karena cintanya pada wanita itu." Juru masak itu pun mulai membuatnya ketika Cap o' Rushes masuk.
“What are you a-doing of?”, says she.
"Sedang membuat apa kau?" tanyanya.
“I'm going to make some gruel for the young master,” says the cook, “for he's dying for love of the lady.”
"Aku akan membuat bubur untuk tuan muda," kata juru masak, "karena ia sekarat karena cinta pada wanita itu."
“Let me make it,” says Cap o' Rushes.
"Biar aku yang membuatnya," kata Cap o' Rushes.
Well, the cook wouldn't at first, but at last she said yes, and Cap o' Rushes made the gruel. And when she had made it she slipped the ring into it on the sly before the cook took it upstairs.
Nah, juru masak itu mulanya tak mau, tetapi akhirnya ia setuju, dan Cap o' Rushes membuat buburnya. Dan setelah selesai membuatnya, ia menyelipkan cincin itu ke dalamnya diam-diam sebelum juru masak membawanya ke atas.
The young man he drank it and then he saw the ring at the bottom.
Pemuda itu meminumnya dan kemudian melihat cincin itu di dasar mangkuk.
“Send for the cook,” says he.
"Panggil juru masak," katanya.
So up she comes.
Maka juru masak itu pun naik.
“Who made this gruel here?” says he.
"Siapa yang membuat bubur ini?" tanyanya.
“I did,” says the cook, for she was frightened.
"Aku," kata juru masak, karena ia takut.
And he looked at her,
Dan pemuda itu memandangnya,
“No, you didn't,” says he. “Say who did it, and you shan't be harmed.”
"Tidak, bukan kau," katanya. "Katakan siapa yang membuatnya, dan kau tak akan dihukum."
“Well, then, 'twas Cap o' Rushes,” says she.
"Baiklah, itu Cap o' Rushes," kata juru masak.
“Send Cap o' Rushes here,” says he.
"Panggil Cap o' Rushes ke sini," katanya.
So Cap o' Rushes came.
Maka Cap o' Rushes pun datang.
“Did you make my gruel?” says he.
"Kau yang membuat buburku?" tanyanya.
“Yes, I did,” says she.
"Ya, aku," katanya.
“Where did you get this ring?” says he.
"Dari mana kau dapatkan cincin ini?" tanyanya.
“From him that gave it me,” says she.
"Dari orang yang memberikannya kepadaku," katanya.
“Who are you, then?” says the young man.
"Lalu, siapa kau sebenarnya?" tanya pemuda itu.
“I'll show you,” says she. And she offed with her cap o' rushes, and there she was in her beautiful clothes.
"Akan kutunjukkan," katanya. Dan ia melepas jubah rumput tekinya, dan di sana ia berdiri dengan pakaian indahnya.
Well, the master's son he got well very soon, and they were to be married in a little time. It was to be a very grand wedding, and every one was asked far and near. And Cap o' Rushes' father was asked. But she never told anybody who she was.
Nah, putra tuan rumah itu pun segera pulih, dan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Itu akan menjadi pernikahan yang sangat megah, dan setiap orang diundang dari jauh dan dekat. Dan ayah Cap o' Rushes pun diundang. Namun gadis itu tak pernah memberitahu siapa pun siapa dirinya.
But before the wedding she went to the cook, and says she:
Namun sebelum pernikahan itu, ia pergi menemui juru masak, dan berkata:
“I want you to dress every dish without a mite o' salt.”
"Aku ingin kau memasak setiap hidangan tanpa sedikit pun garam."
“That'll be rare nasty,” says the cook.
"Itu akan terasa sangat tak enak," kata juru masak.
“That doesn't signify,” says she.
"Itu tak masalah," katanya.
“Very well,” says the cook.
"Baiklah," kata juru masak.
Well, the wedding-day came, and they were married. And after they were married all the company sat down to the dinner. When they began to eat the meat, that was so tasteless they couldn't eat it. But Cap o' Rushes' father he tried first one dish and then another, and then he burst out crying.
Nah, hari pernikahan pun tiba, dan mereka menikah. Dan setelah menikah, semua tamu duduk untuk makan malam. Ketika mereka mulai makan daging, rasanya begitu hambar hingga mereka tak sanggup memakannya. Namun ayah Cap o' Rushes mencoba satu hidangan lalu hidangan lain, dan kemudian ia menangis tersedu-sedu.
“What is the matter?” said the master's son to him.
"Ada apa?" tanya putra tuan rumah kepadanya.
“Oh!” says he, “I had a daughter. And I asked her how much she loved me. And she said 'As much as fresh meat loves salt.' And I turned her from my door, for I thought she didn't love me. And now I see she loved me best of all. And she may be dead for aught I know.”
"Oh!" katanya, "aku dulu punya seorang putri. Dan aku bertanya kepadanya seberapa besar ia mencintaiku. Dan ia berkata, 'Sebesar daging segar mencintai garam.' Dan aku mengusirnya dari rumahku, karena kupikir ia tak mencintaiku. Dan sekarang aku sadar ia mencintaiku paling besar dari semuanya. Dan mungkin saja ia sudah meninggal, entahlah."
“No, father, here she is!” says Cap o' Rushes. And she goes up to him and puts her arms round him.
"Tidak, Ayah, ia ada di sini!" kata Cap o' Rushes. Dan ia menghampiri ayahnya dan memeluknya.
And so they were happy ever after.
Dan sejak saat itu mereka pun hidup bahagia selamanya.